Air kolam itu beriak sebelum tenang kembali. Pendaran cahaya hangat
lampu taman memantul pada kaca jendela. Desiran angin tak bersuara
menerbangkan mimpi-mimpi jiwa yang terlelap. Tak ada hiruk-pikuk hewan
malam yang saling bercengkrama seperti biasa, mereka seperti
membeku dalam kedamaian dunia.
“Bolehkah..”
Gadis
itu tersentak, kembali kepada kenyataan yang sedang menunggunya. Seraya
berupaya meninggalkan diri dari fantasia dunia malam, ia mencoba
mempertajam pendengarannya untuk mendengar kata-kata yang keluar
selanjutnya.
Wajah di depannya memerah sedikit,
“Bolehkah kugenggam tanganmu lagi?”
∞∞
Tiga
ketukan pintu lugas berjeda. Perlu waktu beberapa detik sembari ia
meregangkan otot-otot yang kaku, ia melepas kaca matanya saat melirik jam
dinding. Jam 1 dini hari, ia tertidur tiga puluh menit. Dengan langkah
gontai, ia meninggalkan meja belajarnya dan membuka pintu kayu berat itu
saat ketukan yang kelima terdengar. Ia tak akan menyangka akan bertemu
Petra dengan senyumnya yang mengembang bak adonan roti.
“Est-ce que je vousdéranger? ” (Apakah aku mengganggumu?)bodohnya ia bertanya, tentu saja jawabnya, iya.
“Non, pourqoi?” (Tidak, kenapa?) ah, kau memang paling jago memasang senyum.
Belum sempat Petra menjawab, seseorang berteriak di belakangnya. Well, Ia dan segerombolan yang sedang mengelilinginya.
“Tu viens avec nous aucinéma , ce soir?” (Kau mau ikut nonton bersama kami, nanti malam?)Tanya Liv dengan ceria, ia sedang berangkul ria dengan Hemmet dan Sabbie.
“Non.” (Tidak.) agak sedikit teruru-buru, kesannya, ia langsung menjawab tidak tanpa berpikir. “J’ai du travail.. (Saya ada pekerjaan..) ia berkata dengan senyuman pada akhirnya.
“Allez! Viens avec nous,quoi!” (Ayolah! Pergi bersama kami!)Hemmet tidak sabaran.
Gadis itu kembali hanya menggeleng lemah sambil ternyum simpul,
“Non, non, ce n’est paspossible...” (Tidak, tidak. Itu tidak mungkin..)
Mereka jelas terlihat kecewa, walaupun mereka juga tidak percaya akan berhasil. Tapi Liv, Hemmet,Sabbie dan Petra sangat ingin ia ikut bersama mereka. Memakan malamdan hiruk pikuknya bersama orang-orang yang mereka pikir ,
sahabat. Dan ini bukan pertama kalinya mereka mengajaknya mati-matian.
Mungkin mereka muak karena Ia selalu mengurung diri di kamar,mungkin
mereka merasa aneh karena Ia lebih suka sendiri, mungkin mereka
kasihan padanya karena ia … Toh, itu hanya ada di dalam pikiran gadis
itu. Justru yang benar-benar ia takutkan, ialah kalau niat mereka jauh
lebih baik dari itu semua. Bagaimana kalau sebenarnya, mereka hanya ingin
ia,
Berteman?
Dengan upaya terakhir,Sabbie tersenyum penuh pengertian sambil melirik,
“”Vraiment, tu ne veux pasvenir avec nous?” (Sungguh, kau tidak ingin pergi bersama kami? ) tanya suara malaikat itu lembut.
“Non, merci de votre bonté..” (Tidak, terima kasih atas kebaikanhatimu..) Ia membalasnya dengan senyuman lemah.
Seketika,
Liv, Hemmet danSabbie menyusuri lorong dan keluar dari pintu asrama.
Mara merasa agak risih ketika Petra masih mematung di depan pintunya,
terlihat enggan untuk pergi. Ia baru saja akan menanyakan apa ada
sesuatu, ketika Petra berkata gugup,
”Ceci est pour vous,..” (Ini untukmu..) Ia menyerahkan sebuah tas karton berwarna merah.
Ah
ya benar, ia baru saja kembali dari Swiss. Belum sempat ia selesai
mengucapkan terima kasih, Petra sudah ambil langkah seribu menyusul
kawan-kawannya,“Bonne nuit. ”(Selamat malam)
Gadis itu mengerjap.
Apakah
‘aneh’ merupakan kata yang tepat? Setelah mengunci pintu, ia langsung
membuka isi tas karton merah tersebut. Kira-kira apa yang Petra berikan
untuknya dari Switzerland? Dikeluarkannya dua kotak persegi panjang
yangberat. Cokelat, tentu saja. Apa gunanya pergi ke Swiss jika pulang
tanpa cokelat? Uh, ada sesuatu lagi di bawah kartonnya. Sesuatu yang
teramat lembut. Iamengeluarkan syal rajut merah yang tebal dan mengagumi
keindahannya. Petra punya selera yang bagus.
∞∞
Ini,
tentu saja bukan kereta ekonomi jurusan Bandung-Banten yang biasa ia
tumpangi masa kecil dulu.Alih-alih angin alami yang dahulu ia rasakan,
dinginnya air conditioner membuat pemuda itu merapatkan lagi
jaketnya. Dan bukan sawah-sawah hijau dan pemukiman penduduk yang ia
pandangi, melainkan dinding terowongan tak berujung dan sesekali stasiun
bawah tanah lainnya. Danmana pedagang-pedagang asongan yang menjajakan
kacang rebus dan es lilin sambil menyeka keringat dan berteriak lantang?
Disini hanya ada penumpang lainnya,sama seperti dia, membaca buku,
mendengarkan musik, berbincang pelan dan tidurnyapun tanpa bersuara.
Merasa bosan, ia keluarkan lagi selembar kertasdari ranselnya. Sepucuk suratyang merubah hidupnya.
“Selamat..”
“..terima,”
“..murid akademi..”
“perpindahan salah seorang..”
“..mulai bergabung dalam kelas sejak minggu depan.”
Ia
baca kembali kata-katayang membuat ia tersenyum. Mimpinya selama 7
tahun, terjawab sudah. Ia, seorang pemuda sederhana dari kotakecil, akan
menjejakkan kakinya di Academy of St. Etienne. Perjalan 4 jam
Guttenbürg-Paris terasa ringan dihati. Tiba-tiba ia menangkap sesosok
anak kecil, kira-kira 6 tahun, berdiri dengan risih sambil memegang
tangan ibunya. Tampaknya mereka tidak mendapatkantempat duduk. Kelihatan
sekali jika anak tersebut kelelahan berdiri, ia mulai menendang-nendang
ke segala arah. Sang ibu hanya menyuruhnya untuk bersabar.
Tunggu apa lagi? Kau manusia atau bukan? Bangkitlah.
“Asseyez-vous, s’il vousplait..” (Silahkan duduk)
Pemuda itu tersenyum ramah pada Ibu dan anaknya saat bangkit dari tempat duduknya.
“Oh.. C’est bon, merci.. “ (Oh.. Anda baik sekali, terima kasih..)
Ujar
si Ibu sembari duduk melepas penat dan memangku anak laki-lakinya.
Sekilas anak laki-laki tersebut melirik pemuda itu malu-malu sebelum
akhirnya menatapnya dengan sungguh-sungguh. Sepertinya sekarang, si anak
kasihan melihat pemuda baik hati itu harus rela berdiri demi dirinya.
“Jhe vuss demangd pangdong, Mossyieu..-Je vous demande pardon,Monsieur..”
(Saya minta maaf, Tuan..) ujarnya berbisik.
Yang diajak bicara hanya kembali tersenyum sambil memamerkan serentetan gigi putihnya yang berbaris rapi,
“Ça ne fait rien. ” (Tidak apa-apa.)
Perjalanan 4 jam denganberdiri itupun, terasa bagai tetesan embun sejuk dihati.
∞∞
“Pardon?” (Permisi?)
Suara
pelayan restaurant tersebut membangunkan gadis itu dari lautan mimpi.
Menyentak sarafnya dengan halus. Ia melihat sekelilingnya, taplak meja
berwarna marun, pisau dan garpu perak,piring yang belum dibalik.
“Vous avez choisi,mademoiselle?” (Nona, anda sudah memilih?)
“A-ah, un steak frites, s’ilvous plait..” (Tolong satu steak dengan kentang goreng.)
Ia membuka buku menu dengantangan gemetar.
Pelayang itu mencatat, “Oui,ensuite?” (Ya, dan ada lagi?)
”…Une crème au caramel.” (Satu puding caramel.)
“Vous ne prenez pasd’entrèe?” (Anda tidak ingin makanan pembuka?)
Gadis itu mengendurkan bahunya yang tegang sambil tersenyum.
“Non, merci..” (Tidak,terima kasih.)
“Et comme boisson?” (Danminumannya?)
“Sodas.” (Soda)
“Bien. Tout de suit.” (Baik.Segera.)
Dan
dengan senyuman, pelayan tersebut pergi meninggalkan meja. Gadis itu
menenggelamkan wajahnya ke kedua telapak tangannya. Wajahnya yang panas
membara bersanding dengan bekunya telapak tangannya. Ia benarkan lagi
letak syal rajut merah itu di lehernya.Sehabis menyuruput sodanya yang
baru datang, ia baca lagi kata-kata dalamlembaran itu dengan teliti,
“Rekomendasi..”
“..keluar,”
“Administrasi dan transportasi..”
“yang terbaik..”
“Semoga..”
“.. University of Birm-”
tanpa sadar, ia meremas surat tersebut kemudian dengan pasrah, merapikannya kembali. Ada
apa dengannya? Ini yang ia mau, lalu kenapa semua terasa begitu berat?
Mengapa seakan sang waktu membuat langkahnya terseret,menyuruhnya untuk
berhenti? Apa yang ia tunggu? Ia rasakan perlahan, selera makannya
mulai menghilang. Sekarang ia sangat menyesal telah memesan makanan
berat. Sambil menghela napas, ia berpikir..Liv, Hemmet, Sabbie dan Petra.
Diantara mereka, siapa yang akan melihat note itu terlebih dahulu?
∞∞
Ia
menyeringai aneh, untuk apa juga ia pergi kesini? Langit tertoreh
guritan jingga dan merona. Teriakan-teriakan girang anak-anak yang
diperbolehkan menaiki Merry Go Round satu putaran lagi.Gula-gula
kapas mengembang bak awan-awan mimpi. Denting bel penjual es krim
dan pengawas karcis yang terlihat kelelahan, menunggu dengan sabar
gilirannya untuk mengakhiri shift hari ini. Suara kegembiraan menguar
dimana mana. Di seberangtaman hiburan itu, adalah pantai buatan, sia-sia
mencoba untuk berselancar, airnya akan berbatas sampai 15 m dari tepi
saja. Tapi toh burung-burung camar tetap tertipu. Mereka tetap bernyanyi
disekitar ombak ombak magnetik yang bergelung itu, menyempurnakan
senandung sore di tempat penuh keajaiban ini. Gadis itu terduduk di
sebuah bangku panjang menghadap pantai. Memunggunggi semua cinta yang
ada. Meraba-raba pasir dengan telapak kakinya. Bernapas dengan angin
yang menyibak surainya. Adakah yang lebih baik dari seorang diri?
∞∞
Ia
menjilat darah darilu kanya dan berjalan sambil terseok-seok kearah
danau. Seraya mengatur napasnya kembali, ia mengintip bayangan dirinya di
tepi sungai. Rambutnya masih tetapseputih salju dan matanya masih
berwarna darah memerah. Tapi pakaiannya telahcompang-camping. Sobek
sana sobek sini. Kedua bahunya tergores cukup dalam dan beberapa bagian,
termasuk pipinya, memar. Kakinya terantuk batu saat ia memanjat bukit
tadi bibirnya sedikit sobek. Tapi itu belum seberapa dari pada luka di
perut bagian kirinya yang tertembus pedang. Pendarahannya masih terjadi
dan membuat pakaiannya berubah warna. Ia mencabut anak panah yang
tertancap di punggungnya dengan kasar.
Ini akan memakan waktu yang lama.
Gadis
itu lanjut menyeka darah di telapak tangannya dengan lidahnya dan mulai
berjalan pelan memasukidanau. Dinginnya air yang telah membeku semalam,
dengan luka-lukanya yang menganga lebar, membuatnya memejamkan mata.
Gadis itu sesekali merintih kecil akibat luka yang ia rasa menembus
ginjalnya tersebut. Namun tak sampai lama, ia berjalan kembali dari
tengah danau, ke tepian. Meninggalkan hewan-hewan hutan yang kebingungan.
Kemana luka-luka barusan?
∞∞
Bukan seperti
ini yang ia bayangkan. Perjalanan dari Paris ke St. Etienne memakan waktu 4
jam dan sekarang… Oh tuhan,sekarang lebih baik lagi! Ia tersesat. Yah,
semuanya memang tampak lebih sederhana dari peta. Semakin ia berjalan,
semakin ia mendekati bianglala yang tampak menyala dari kejauhan. Taman
hiburan St. Etienne. Oh ya, memang ‘hiburan’ yang saat ini ia sedang
perlukan. Langkah-langkahnya mulai memberat seiring iamenggeret
kopernya, tapi keinginan untuk melihat lebih jauh membuatnya terus
tersedot ke dalam zona senja. Samar-samar, ia mendengar debur ombak.
Pantai? Baiklah,tersesat di sini ternyata tidak terlalu buruk. Semakin
ia rasa sepatunya tenggelam diantara butiran emas pasir, semakin ia
memicingkan matanya padasosok yang sedang terduduk di sebuah bangku
panjang menghadap laut. Ada yang teringang. Ada sesuatu yang rasanya
seperti ‘rumah’. Ada hal yang sepertinya sesuatu yang telah ia cari selama 7 tahun. Dengan amat perlahan sekali, sang pemuda mendekat kearah sosok gadis itu. Dan tanpa aba-aba, gadisitu menoleh lembut.
“Hei..”
∞∞
Stop.
Ada sesuatu yang diam.
Ada sesuatu yang berhenti.
Di dalam.
Bagaimana
ia bisa lupa?Kedua pasang mata besar dan tajam itu yang tak pernah ragu
menantang dunia?Wajah oval yang terbingkai surai hitam tebal yang
melambai tertiup hawa yang iri padanya? Atau senyuman lembut itu seperti
sekarang, yang bahkan tak berubah selama 7 tahun terakhir? Dan sekarang,
hei. Hei? Hanya ‘Hei..’ yang gadis didepannya ucapkan selama 7 tahun
mereka saling mencari?
Katakan sesuatu!
Pemuda itu membersihkan tenggorokannya,“Hai.”
Bagus, ternyata kau sama bodohnya.
“Kau menemukan aku.”
Masih sambil mengangguk tak percaya, pemuda itu tersenyum,
“Aku menemukanmu…”
∞∞
Aneh
sekali rasanya,berjalan dengan Bex di saku. Masih terasa asing, namun
masih dapat membuatnya tersenyum tak jelas selama beberapa minggu
terakhir ini. Baru saja rasanya seperti kemarin, saat ia mencabutnya dari
tugu batu. Saat itu terjadi, Bex telah terangkat untuk kelima kalinya
selama 2 abad. Generasi kelima. Tak bosan-bosannya ia pandangi seharian.
Kuat bajanya yang memantulkan bayangan wajah tampannya. Indah ukirnya
sepanjang garis mata yang membelahnya. Desing merdu suaranya saat ia
kembali ke dalam sarungnya. Dan belum lagi, bagaimana pegangannya bisa
sangat pas dalam tangannya. Mungkin saat ini ia sedang terlalu senang
hingga menjadi sombong sedikit. Tapi tak ada salahnya. Ia toh
pantas mendapatkannya.
Tapi.. sayang, sayang..pemuda lugu yang sama sekali tak tahu..
Blue Excalibur sedang haus akan darah..
∞∞
Ia
sedang menari.Memutar-mutar badannya dan mengayun-ayunkan lengannya.
Berputar saat perlu dan menyapu pasir saat beradu. Masih sambil
memejamkan mata dan menyungging senyum,ia membungkuk pada akhirnya. Dan
si pemuda bertepuk tangan lama sekali. Mereka telah tergelak tawa selama
30 menit terakhir, mencairkan es abadi yang dulu pernah ada. Sekarang
gadis itu ambruk di hamparan pasir hangat keemasan.Mengatur napasnya
naik turun. Memandang padang bintang di langit seberang. Sang pemuda
hanya menatap takjub sesaat dan ikut berbaring disampingnya.
“Itu tadi, namanya tarian angsa..” racau gadis disebelahnya aneh.
Namun
pemuda itu hanya menyeringai dan membiarkan gadis itu senang, “Itu,
adalah tarian terindah yang seekor angsa pernah tarikan..”
Gadis itu terkikik, “Kwek!”
“Kau tahu mengapa aku ada disini?” Pemuda itu memulai. Dan tanpa ia duga gadis itu mengangguk.
Namun
ia tetap melanjutkan,“Akhirnya, mereka menerimaku sebagai siswa
kehormatan. Setelah salah seorang siswa dipindahkan ke luar negeri demi
alasan rekomendasi jenjang yang lebih tinggi. Aku masuk, ke akademimu..”
“Selamat..” hanya itu yang keluar dari bibir merah mudanya.
“Aku selalu penasaran siapa yang mereka pilih untuk menggantikanku.. ” gadis itu tersenyum.
∞∞
“Impossiblè!” (Tidakmungkin)
Petra
mengenggam note kecil yang tergantung di depan pintu kayu itu dengan
gemetar. Tak ada angin, tak ada kabar dari burung burung.Tiba-tiba saja
note itu tertempel di depan pintu kamar gadis itu. Kertas kecil itu
mengubah hidupnya, hidup Liv, Hemmet dan Sabbie juga. Entah bagaimana
bisa,hanya ada dua kalimat yang tertera padanya,
Je finis la leçon -I have finished my study…
Au revoir -Good bye,
∞∞
“Mereka merekomendasikanku ke Universitas Birmingham.. Kau tahu, itu di Inggris..”
Lidahnya kelu karena angin pantai yang berhembus atau entah kenyataan yang terasa pahit pada pengecapannya.
“Murid yang keluar.. itu kau? Jadi aku bisa masuk.. Karena kau keluar?” pemuda itu terbata-bata.
Meskipun sakit bagi gadis itu untuk mengangguk, pada akhirnya ia melakukannya juga. “Maafkan aku..”
Ia
lihat pemuda dihadapannya bahkan seperti tak bisa menahan getaran
tubuhnya sendiri, “Dan selama ini kupikir.. Pada akhirnya, aku bisa
bertemu denganmu..”
“Kau memang telah bertemu denganku.” Koreksi si gadis.
“Tapi bukan pertemuan yangmengharuskanku melepasmu lagi! ” nada suara pemuda itu mulai meninggi.
Keheningan
yang tersisa diantara jarak mereka berdua, hanya diisi suara gelungan
ombak yang bisu. Lama sebelum si gadis menghela napas dan tersenyum
simpul.
“Kau telah menemukanku.. Kau akan menemukanmu lagi.”
Pemuda
itu menoleh. Tak sanggup berkata bahwa apa yang dikatakannya benar.
Memang ini jalan yang telah tertuliskan untuk mereka. Untuk saling,
“Kejar-kejaran..
Kurasa pada akhirnya, kita tak pernah berhenti bermain kejar-kejaran..”
Pemuda itu tersenyum sedih, “Menurutmu kita akan bertemu lagi?”
Sang
gadis menepuk pelanpundak pemuda di sampingnya, “Tentu saja. Kalau
hukum Tuhan adalah kita saling bermain kejar-kejaran sampai ke ujung
dunia, maka peraturannya adalah, kita akan selalu bertemu di dunia
manapun..”
“Benarkah? Di dunia manapun?” pemuda itu memandangnya indah.
Sang gadis menganggukmantap, “Di dunia manapun..”
∞∞
“Kau terlihat aneh,tersenyum sendiri sedari tadi.”
Pemuda
berjubah hitam itu terkejut setengah mati. Seorang gadis bergelayutan di
dahan pohon, bergantung terbalik, memandangnya seolah gadis itu telah
mengamatinya seharian penuh.Dengan sigap ia menarik keluar Bex dari
sarungnya.
Sepasang delima gadis itu membesar dan membulat, “Blue Excalibur…?”
“Kau.. tahu? ”tenggorokannya terasa tercekat.
Secepat kilat, gadis itu bangkit. Melompat makin menjauhinya. Dan entah mengapa, memandang penuh takut padanya.
“Kau, Atlas Skyguard..”gadis itu nyaris berbisik.
“Bagaimana kau tahu namaku?”
Bukannya
menjawab, gadis itumasih memandangnya curiga. Akhirnya perlahan, ia
mendekat.. Meski hanya beberapa langkah, Atlas dapat melihat bagaimana
wajah pengganggunya sekarang.Rambutnya lebih pucat dari salju bulan
Desember dan matanya, memancarkan delima darah yang tertahan. Gadis itu
bukan manusia.
“Berhati-hatilah menggunakannya.. Bex telah
haus akan darah selama 500 tahun terakhir.. ” gadis itu terlihat sedikit
lebih berani sekarang.
Atlas menggeleng tak percaya, “Tidak.. Merlin bilang-”
“Dan maksudku, bukan darahmanusia..” potong gadis itu.
Atlas membeku. Bagaimana gadis di depannya tahu banyak tentang pedangnya? “Siapa namamu?”
Gadis itu tersenyum, “Itu sama sekali tidak penting.”
“Penting bagiku.”
Gadis
itu baru saja hendak mengatakan sesuatu kembali saat ia mendengar suara
derap langkah kuda mendekat,secepat kijang, gadis itu berlari menembus
pohon-pohon pinus, semakin masuk ke dalam hutan. Atlas tak ambil diam, ia
ikut berlari, mengerjar bayangan surai berwarna salju yang
melambai-melambai di depan wajahnya.
“Aku perlu namamu!” Atlas tak menyerah.
Dan
sesuatu yang mengejutkan terjadi, gadis itu berbalik, dan menyerangnya
dengan sebilah pisau kecil. Yang lucunya,hanya menyerempet pipi kirinya
saja. Namun tindakan itu membuat Atlas terhenti dan diam.
Gadis itu baru saja menyerangnya.
Dirasakannya
cairan hangat mengalirdari balik goresan tersebut, turun melalui leher
dan mengotori jubahnya dengan noda merah. Ia terluka.
Luka.. Scar..
Nama gadis itu adalah Scar.
∞∞
Ia
meletakkan kopernya dengan lunglai, dan memandang seluruh ruangan
barunya tanpa semangat. Bukan ini yang ia bayangkan akan terjadi. Tapi ia
tersenyum, betapa lucu rencana Tuhan.
Lihat saja, kita sedang bermain kejar-kejaran..
Dan hitunglah, 1..2..3.. akuakan menemukanmu lagi.
Aku.. Diriku.. Otakku.. Berusaha menyimpan dan mencerna apa yang kau suguhkan, tapi kulihat mataku yang terlihat bingung, aku.. Tidak.. Bisa.. Mengerti.. TERLALU BERAT.
BalasHapusLOL :v seiring dengan berjalannya waktu, nak.. seiring dengan berjalannya waktu..
BalasHapus