Selasa, 13 Mei 2014

Chanter

Air kolam itu beriak sebelum tenang kembali. Pendaran cahaya hangat lampu taman memantul pada kaca jendela. Desiran angin tak bersuara menerbangkan mimpi-mimpi jiwa yang terlelap. Tak ada hiruk-pikuk hewan malam yang saling bercengkrama seperti biasa, mereka seperti membeku dalam kedamaian dunia.

“Bolehkah..”

Gadis itu tersentak, kembali kepada kenyataan yang sedang menunggunya. Seraya berupaya meninggalkan diri dari fantasia dunia malam, ia mencoba mempertajam pendengarannya untuk mendengar kata-kata yang keluar selanjutnya.

Wajah di depannya memerah sedikit,

“Bolehkah kugenggam tanganmu lagi?”

∞∞

Tiga ketukan pintu lugas berjeda. Perlu waktu beberapa detik sembari ia meregangkan otot-otot yang kaku, ia melepas kaca matanya saat melirik jam dinding. Jam 1 dini hari, ia tertidur tiga puluh menit. Dengan langkah gontai, ia meninggalkan meja belajarnya dan membuka pintu kayu berat itu saat ketukan yang kelima terdengar. Ia tak akan menyangka akan bertemu Petra dengan senyumnya yang mengembang bak adonan roti.

“Est-ce que je vousdéranger? ” (Apakah aku mengganggumu?)bodohnya ia bertanya, tentu saja jawabnya, iya.

“Non, pourqoi?” (Tidak, kenapa?) ah, kau memang paling jago memasang senyum.

Belum sempat Petra menjawab, seseorang berteriak di belakangnya. Well, Ia dan segerombolan yang sedang mengelilinginya.

“Tu viens avec nous aucinéma  , ce soir?” (Kau mau ikut nonton bersama kami, nanti malam?)Tanya Liv dengan ceria, ia sedang berangkul ria dengan Hemmet dan Sabbie.

“Non.” (Tidak.) agak sedikit teruru-buru, kesannya, ia langsung menjawab tidak tanpa berpikir. “J’ai du travail.. (Saya ada pekerjaan..) ia berkata dengan senyuman pada akhirnya.

“Allez! Viens avec nous,quoi!” (Ayolah! Pergi bersama kami!)Hemmet tidak sabaran.

Gadis itu kembali hanya menggeleng lemah sambil ternyum simpul,
“Non, non, ce n’est paspossible...” (Tidak, tidak. Itu tidak  mungkin..)

Mereka jelas terlihat kecewa, walaupun mereka juga tidak percaya akan berhasil. Tapi Liv, Hemmet,Sabbie dan Petra sangat ingin ia ikut bersama mereka. Memakan malamdan hiruk pikuknya bersama orang-orang yang mereka pikir , sahabat. Dan ini bukan pertama kalinya mereka mengajaknya mati-matian. Mungkin mereka muak karena Ia selalu mengurung diri di kamar,mungkin mereka merasa aneh karena Ia lebih suka sendiri, mungkin mereka kasihan padanya karena ia … Toh, itu hanya ada di dalam pikiran gadis itu. Justru yang benar-benar ia takutkan, ialah kalau niat mereka jauh lebih baik dari itu semua. Bagaimana kalau sebenarnya, mereka hanya ingin ia,

Berteman?

Dengan upaya terakhir,Sabbie tersenyum penuh pengertian sambil melirik,

“”Vraiment, tu ne veux pasvenir avec nous?” (Sungguh, kau tidak ingin pergi bersama kami? ) tanya suara malaikat itu lembut.

“Non, merci de votre bonté..” (Tidak, terima kasih atas kebaikanhatimu..)    Ia membalasnya dengan senyuman lemah.

Seketika, Liv, Hemmet danSabbie menyusuri lorong dan keluar dari pintu asrama. Mara merasa agak risih ketika Petra masih mematung di depan pintunya, terlihat enggan untuk pergi. Ia baru saja akan menanyakan apa ada sesuatu, ketika Petra berkata gugup,

”Ceci est pour vous,..” (Ini untukmu..) Ia menyerahkan sebuah tas karton berwarna merah.

Ah ya benar, ia baru saja kembali dari Swiss. Belum sempat ia selesai mengucapkan terima kasih, Petra sudah ambil langkah seribu menyusul kawan-kawannya,“Bonne nuit. ”(Selamat malam)

Gadis itu mengerjap.

Apakah ‘aneh’ merupakan kata yang tepat? Setelah mengunci pintu, ia langsung membuka isi tas karton merah tersebut. Kira-kira apa yang Petra berikan untuknya dari Switzerland? Dikeluarkannya dua kotak persegi panjang yangberat. Cokelat, tentu saja. Apa gunanya pergi ke Swiss jika pulang tanpa cokelat? Uh, ada sesuatu lagi di bawah kartonnya. Sesuatu yang teramat lembut. Iamengeluarkan syal rajut merah yang tebal dan mengagumi keindahannya. Petra punya selera yang bagus.

∞∞

Ini, tentu saja bukan kereta ekonomi jurusan Bandung-Banten yang biasa ia tumpangi masa kecil dulu.Alih-alih angin alami yang dahulu ia rasakan, dinginnya air conditioner membuat pemuda itu merapatkan lagi jaketnya. Dan bukan sawah-sawah hijau dan pemukiman penduduk yang ia pandangi, melainkan dinding terowongan tak berujung dan sesekali stasiun bawah tanah lainnya. Danmana pedagang-pedagang asongan yang menjajakan kacang rebus dan es lilin sambil menyeka keringat dan berteriak lantang? Disini hanya ada penumpang lainnya,sama seperti dia, membaca buku, mendengarkan musik, berbincang pelan dan tidurnyapun tanpa bersuara. Merasa bosan, ia keluarkan lagi selembar kertasdari ranselnya. Sepucuk suratyang merubah hidupnya.

“Selamat..”

“..terima,”

“..murid akademi..”

“perpindahan salah seorang..”

“..mulai bergabung dalam kelas sejak minggu depan.”

Ia baca kembali kata-katayang membuat ia tersenyum. Mimpinya selama 7 tahun, terjawab sudah. Ia, seorang pemuda sederhana dari kotakecil, akan menjejakkan kakinya di Academy of St. Etienne. Perjalan 4 jam Guttenbürg-Paris terasa ringan dihati. Tiba-tiba ia menangkap sesosok anak kecil, kira-kira 6 tahun, berdiri dengan risih sambil memegang tangan ibunya. Tampaknya mereka tidak mendapatkantempat duduk. Kelihatan sekali jika anak tersebut kelelahan berdiri, ia mulai menendang-nendang ke segala arah. Sang ibu hanya menyuruhnya untuk bersabar.
Tunggu apa lagi? Kau manusia atau bukan? Bangkitlah.

“Asseyez-vous, s’il vousplait..” (Silahkan duduk)
Pemuda itu tersenyum ramah pada Ibu dan anaknya saat bangkit dari tempat duduknya.

“Oh.. C’est bon, merci.. “ (Oh.. Anda baik sekali, terima kasih..)
Ujar si Ibu sembari duduk melepas penat dan memangku anak laki-lakinya. Sekilas anak laki-laki tersebut melirik pemuda itu malu-malu sebelum akhirnya menatapnya dengan sungguh-sungguh. Sepertinya sekarang, si anak kasihan melihat pemuda baik hati itu harus rela berdiri demi dirinya.

Jhe vuss demangd pangdong, Mossyieu..-Je vous demande pardon,Monsieur..”
(Saya minta maaf, Tuan..) ujarnya berbisik.

Yang diajak bicara hanya kembali tersenyum sambil memamerkan serentetan gigi putihnya yang berbaris rapi,

“Ça ne fait rien. ”  (Tidak apa-apa.)

Perjalanan 4 jam denganberdiri itupun, terasa bagai tetesan embun sejuk dihati.

∞∞

“Pardon?” (Permisi?)
Suara pelayan restaurant tersebut membangunkan gadis itu dari lautan mimpi. Menyentak sarafnya dengan halus. Ia melihat sekelilingnya, taplak meja berwarna marun, pisau dan garpu perak,piring yang belum dibalik.
“Vous avez choisi,mademoiselle?” (Nona, anda sudah memilih?)

“A-ah, un steak frites, s’ilvous plait..” (Tolong satu steak dengan kentang goreng.)
Ia membuka buku menu dengantangan gemetar.

Pelayang itu mencatat, “Oui,ensuite?”   (Ya, dan ada lagi?)

”…Une crème au caramel.”  (Satu puding caramel.)

“Vous ne prenez pasd’entrèe?” (Anda tidak ingin makanan pembuka?)

Gadis itu mengendurkan bahunya yang tegang sambil tersenyum.
“Non, merci..”    (Tidak,terima kasih.)

“Et comme boisson?”  (Danminumannya?)

“Sodas.”  (Soda)

“Bien. Tout de suit.”  (Baik.Segera.)
Dan dengan senyuman, pelayan tersebut pergi meninggalkan meja. Gadis itu menenggelamkan wajahnya ke kedua telapak tangannya. Wajahnya yang panas membara bersanding dengan bekunya telapak tangannya. Ia benarkan lagi letak syal rajut merah itu di lehernya.Sehabis menyuruput sodanya yang baru datang, ia baca lagi kata-kata dalamlembaran itu dengan teliti,

“Rekomendasi..”

“..keluar,”

“Administrasi dan transportasi..”

“yang terbaik..”

“Semoga..”

“.. University of Birm-”

tanpa sadar, ia meremas surat tersebut kemudian dengan pasrah, merapikannya kembali. Ada apa dengannya? Ini yang ia mau, lalu kenapa semua terasa begitu berat? Mengapa seakan sang waktu membuat langkahnya terseret,menyuruhnya untuk berhenti? Apa yang ia tunggu? Ia rasakan perlahan, selera makannya mulai menghilang. Sekarang ia sangat menyesal telah memesan makanan berat. Sambil menghela napas, ia berpikir..Liv, Hemmet, Sabbie dan Petra.

Diantara mereka, siapa yang akan melihat note itu terlebih dahulu?

∞∞

Ia menyeringai aneh, untuk apa juga ia pergi kesini? Langit tertoreh guritan jingga dan merona. Teriakan-teriakan girang anak-anak yang diperbolehkan menaiki Merry Go Round  satu putaran lagi.Gula-gula kapas mengembang bak awan-awan mimpi. Denting bel penjual es krim dan pengawas karcis yang terlihat kelelahan, menunggu dengan sabar gilirannya untuk mengakhiri shift hari ini. Suara kegembiraan menguar dimana mana. Di seberangtaman hiburan itu, adalah pantai buatan, sia-sia mencoba untuk berselancar, airnya akan berbatas sampai 15 m dari tepi saja. Tapi toh burung-burung camar tetap tertipu. Mereka tetap bernyanyi disekitar ombak ombak magnetik yang bergelung itu, menyempurnakan senandung sore di tempat penuh keajaiban ini. Gadis itu terduduk di sebuah bangku panjang menghadap pantai. Memunggunggi semua cinta yang ada. Meraba-raba pasir dengan telapak kakinya. Bernapas dengan angin yang menyibak surainya. Adakah yang lebih baik dari seorang diri?

∞∞

Ia menjilat darah darilu kanya dan berjalan sambil terseok-seok kearah danau. Seraya mengatur napasnya kembali, ia mengintip bayangan dirinya di tepi sungai. Rambutnya masih tetapseputih salju dan matanya masih berwarna darah memerah. Tapi pakaiannya telahcompang-camping. Sobek sana sobek sini. Kedua bahunya tergores cukup dalam dan beberapa bagian, termasuk pipinya, memar. Kakinya terantuk batu saat ia memanjat bukit tadi bibirnya sedikit sobek. Tapi itu belum seberapa dari pada luka di perut bagian kirinya yang tertembus pedang. Pendarahannya masih terjadi dan membuat pakaiannya berubah warna. Ia mencabut anak panah yang tertancap di punggungnya dengan kasar.

Ini akan memakan waktu yang lama.

Gadis itu lanjut menyeka darah di telapak tangannya dengan lidahnya dan mulai berjalan pelan memasukidanau. Dinginnya air yang telah membeku semalam, dengan luka-lukanya yang menganga lebar, membuatnya memejamkan mata. Gadis itu sesekali merintih kecil akibat luka yang ia rasa menembus ginjalnya tersebut. Namun tak sampai lama, ia berjalan kembali dari tengah danau, ke tepian. Meninggalkan hewan-hewan hutan yang kebingungan. Kemana luka-luka barusan?

∞∞

Bukan seperti ini yang ia bayangkan. Perjalanan dari Paris ke St. Etienne memakan waktu 4 jam dan sekarang… Oh tuhan,sekarang lebih baik lagi! Ia tersesat. Yah, semuanya memang tampak lebih sederhana dari peta. Semakin ia berjalan, semakin ia mendekati bianglala yang tampak menyala dari kejauhan. Taman hiburan St. Etienne. Oh ya, memang ‘hiburan’ yang saat ini ia sedang perlukan. Langkah-langkahnya mulai memberat seiring iamenggeret kopernya, tapi keinginan untuk melihat lebih jauh membuatnya terus tersedot ke dalam zona senja. Samar-samar, ia mendengar debur ombak. Pantai? Baiklah,tersesat di sini ternyata tidak terlalu buruk. Semakin ia rasa sepatunya tenggelam diantara butiran emas pasir, semakin ia memicingkan matanya padasosok yang sedang terduduk di sebuah bangku panjang menghadap laut. Ada yang teringang. Ada sesuatu yang rasanya seperti ‘rumah’. Ada hal yang sepertinya sesuatu yang telah ia cari selama 7 tahun. Dengan amat perlahan sekali, sang pemuda mendekat kearah sosok gadis itu. Dan tanpa aba-aba, gadisitu menoleh lembut.

“Hei..”


∞∞

Stop.


Ada sesuatu yang diam.

Ada sesuatu yang berhenti.

Di dalam.

Bagaimana ia bisa lupa?Kedua pasang mata besar dan tajam itu yang tak pernah ragu menantang dunia?Wajah oval yang terbingkai surai hitam tebal yang melambai tertiup hawa yang iri padanya? Atau senyuman lembut itu seperti sekarang, yang bahkan tak berubah selama 7 tahun terakhir? Dan sekarang, hei. Hei? Hanya ‘Hei..’ yang gadis didepannya ucapkan selama 7 tahun mereka saling mencari?

Katakan sesuatu!

Pemuda itu membersihkan tenggorokannya,“Hai.”

Bagus, ternyata kau sama bodohnya.

“Kau menemukan aku.”

Masih sambil mengangguk tak percaya, pemuda itu tersenyum,

“Aku menemukanmu…”
∞∞
Aneh sekali rasanya,berjalan dengan Bex di saku. Masih terasa asing, namun masih dapat membuatnya tersenyum tak jelas selama beberapa minggu terakhir ini. Baru saja rasanya seperti kemarin, saat ia mencabutnya dari tugu batu. Saat itu terjadi, Bex telah terangkat untuk kelima kalinya selama 2 abad. Generasi kelima. Tak bosan-bosannya ia pandangi seharian. Kuat bajanya yang memantulkan bayangan wajah tampannya. Indah ukirnya sepanjang garis mata yang membelahnya. Desing merdu suaranya saat ia kembali ke dalam sarungnya. Dan belum lagi, bagaimana pegangannya bisa sangat pas dalam tangannya. Mungkin saat ini ia sedang terlalu senang hingga menjadi sombong sedikit. Tapi tak ada salahnya. Ia toh pantas mendapatkannya.

Tapi.. sayang, sayang..pemuda lugu yang sama sekali tak tahu..

Blue Excalibur sedang haus akan darah..

∞∞

Ia sedang menari.Memutar-mutar badannya dan mengayun-ayunkan lengannya. Berputar saat perlu dan menyapu pasir saat beradu. Masih sambil memejamkan mata dan menyungging senyum,ia membungkuk pada akhirnya. Dan si pemuda bertepuk tangan lama sekali. Mereka telah tergelak tawa selama 30 menit terakhir, mencairkan es abadi yang dulu pernah ada. Sekarang gadis itu ambruk di hamparan pasir hangat keemasan.Mengatur napasnya naik turun. Memandang padang bintang di langit seberang. Sang pemuda hanya menatap takjub sesaat dan ikut berbaring disampingnya.

“Itu tadi, namanya tarian angsa..” racau gadis disebelahnya aneh.

Namun pemuda itu hanya menyeringai dan membiarkan gadis itu senang, “Itu, adalah tarian terindah yang seekor angsa pernah tarikan..”

Gadis itu terkikik, “Kwek!”

“Kau tahu mengapa aku ada disini?” Pemuda itu memulai. Dan tanpa ia duga gadis itu mengangguk.
Namun ia tetap melanjutkan,“Akhirnya, mereka menerimaku sebagai siswa kehormatan. Setelah salah seorang siswa dipindahkan ke luar negeri demi alasan rekomendasi jenjang yang lebih tinggi. Aku masuk, ke akademimu..”

“Selamat..” hanya itu yang keluar dari bibir merah mudanya.

“Aku selalu penasaran siapa yang mereka pilih untuk menggantikanku.. ” gadis itu tersenyum.


∞∞

“Impossiblè!” (Tidakmungkin)

Petra mengenggam note kecil yang tergantung di depan pintu kayu itu dengan gemetar. Tak ada angin, tak ada kabar dari burung burung.Tiba-tiba saja note itu tertempel di depan pintu kamar gadis itu. Kertas kecil itu mengubah hidupnya, hidup Liv, Hemmet dan Sabbie juga. Entah bagaimana bisa,hanya ada dua kalimat yang tertera padanya,

Je finis la leçon  -I have finished my study…
Au revoir  -Good bye,

∞∞



“Mereka merekomendasikanku ke Universitas Birmingham.. Kau tahu, itu di Inggris..”



Lidahnya kelu karena angin pantai yang berhembus atau entah kenyataan yang terasa pahit pada pengecapannya.

“Murid yang keluar.. itu kau? Jadi aku bisa masuk.. Karena kau keluar?” pemuda itu terbata-bata.

Meskipun sakit bagi gadis itu untuk mengangguk, pada akhirnya ia melakukannya juga. “Maafkan aku..”

Ia lihat pemuda dihadapannya bahkan seperti tak bisa menahan getaran tubuhnya sendiri, “Dan selama ini kupikir.. Pada akhirnya, aku bisa bertemu denganmu..”

“Kau memang telah bertemu denganku.” Koreksi si gadis.

“Tapi bukan pertemuan yangmengharuskanku melepasmu lagi! ” nada suara pemuda itu mulai meninggi.

Keheningan yang tersisa diantara jarak mereka berdua, hanya diisi suara gelungan ombak yang bisu. Lama sebelum si gadis menghela napas dan tersenyum simpul.
“Kau telah menemukanku.. Kau akan menemukanmu lagi.”

Pemuda itu menoleh. Tak sanggup berkata bahwa apa yang dikatakannya benar. Memang ini jalan yang telah tertuliskan untuk mereka. Untuk saling,

“Kejar-kejaran.. Kurasa pada akhirnya, kita tak pernah berhenti bermain kejar-kejaran..” Pemuda itu tersenyum sedih, “Menurutmu kita akan bertemu lagi?”

Sang gadis menepuk pelanpundak pemuda di sampingnya, “Tentu saja. Kalau hukum Tuhan adalah kita saling bermain kejar-kejaran sampai ke ujung dunia, maka peraturannya adalah, kita akan selalu bertemu di dunia manapun..”

“Benarkah? Di dunia manapun?” pemuda itu memandangnya indah.

Sang gadis menganggukmantap, “Di dunia manapun..”

∞∞

“Kau terlihat aneh,tersenyum sendiri sedari tadi.”

Pemuda berjubah hitam itu terkejut setengah mati. Seorang gadis bergelayutan di dahan pohon, bergantung terbalik, memandangnya seolah gadis itu telah mengamatinya seharian penuh.Dengan sigap ia menarik keluar Bex dari sarungnya.

Sepasang delima gadis itu membesar dan membulat, “Blue Excalibur…?”

“Kau.. tahu? ”tenggorokannya terasa tercekat.

Secepat kilat, gadis itu bangkit. Melompat makin menjauhinya. Dan entah mengapa, memandang penuh takut padanya.

“Kau, Atlas Skyguard..”gadis itu nyaris berbisik.

“Bagaimana kau tahu namaku?”

Bukannya menjawab, gadis itumasih memandangnya curiga. Akhirnya perlahan, ia mendekat.. Meski hanya beberapa langkah, Atlas dapat melihat bagaimana wajah pengganggunya sekarang.Rambutnya lebih pucat dari salju bulan Desember dan matanya, memancarkan delima darah yang tertahan. Gadis itu bukan manusia.

“Berhati-hatilah menggunakannya.. Bex telah haus akan darah selama 500 tahun terakhir.. ” gadis itu terlihat sedikit lebih berani sekarang.

Atlas menggeleng tak percaya, “Tidak.. Merlin bilang-”

“Dan maksudku, bukan darahmanusia..” potong gadis itu.

Atlas membeku. Bagaimana gadis di depannya tahu banyak tentang pedangnya? “Siapa namamu?”

Gadis itu tersenyum, “Itu sama sekali tidak penting.”

“Penting bagiku.”

Gadis itu baru saja hendak mengatakan sesuatu kembali saat ia mendengar suara derap langkah kuda mendekat,secepat kijang, gadis itu berlari menembus pohon-pohon pinus, semakin masuk ke dalam hutan. Atlas tak ambil diam, ia ikut berlari, mengerjar bayangan surai berwarna salju yang melambai-melambai di depan wajahnya.

“Aku perlu namamu!” Atlas tak menyerah.

Dan sesuatu yang mengejutkan terjadi, gadis itu berbalik, dan menyerangnya dengan sebilah pisau kecil. Yang lucunya,hanya menyerempet pipi kirinya saja. Namun tindakan itu membuat Atlas terhenti dan diam.

Gadis itu baru saja menyerangnya.

Dirasakannya cairan hangat mengalirdari balik goresan tersebut, turun melalui leher dan mengotori jubahnya dengan noda merah. Ia terluka.

Luka..  Scar..

Nama gadis itu adalah Scar.

∞∞
Ia meletakkan kopernya dengan lunglai, dan memandang seluruh ruangan barunya tanpa semangat. Bukan ini yang ia bayangkan akan terjadi. Tapi ia tersenyum, betapa lucu rencana Tuhan.

Lihat saja, kita sedang bermain kejar-kejaran..

Dan hitunglah, 1..2..3.. akuakan menemukanmu lagi.

2 komentar:

  1. Aku.. Diriku.. Otakku.. Berusaha menyimpan dan mencerna apa yang kau suguhkan, tapi kulihat mataku yang terlihat bingung, aku.. Tidak.. Bisa.. Mengerti.. TERLALU BERAT.

    BalasHapus
  2. LOL :v seiring dengan berjalannya waktu, nak.. seiring dengan berjalannya waktu..

    BalasHapus