Selasa, 15 Juli 2014

Travels Within the Space

Aku diam di ruang hampa. 

Pernah merasakan sengatan tumpul bagai digantam batu granit di bagian kiri atas pelipis tempurung kepalamu? Aku menyebutnya "penat." Kau juga boleh memanggilnya begitu, kalau kau mau. Little did everyone knews, "Penat" bergerak vertikal dan horizontal. 

Kau tahu apa artinya- "Penat" adalah bidang 3 dimensi

Kau tahu apa artinya- "Penat" adalah volume.

Kau tahu apa artinya- "Penat" menempati ruang.

Ya Tuhan, kau bodoh sekali. 

Sama.

Anjingmu juga bodoh.

Jadi ambil obeng dan cabut Penat itu keluar. Tidak bisa? Yah, kau harus mencoba lebih keras. Masih terasa disitu? Maafkan. Mungkin saja penyebabnya aku. Aku yang menaruh penat itu padamu. Meski kau seseorang dari- kau dari mana? ah, brokoli rebus. Semuanya sama saja.

Seseorang dari masa lampau? Seseorang dari masa kini? Seseorang dari masa depan? 

Tidak ada bedanya. Semua dapat penat hahahaha. Hentikan. Aku membuatmu gila.

Teman teman, Im leaving Paradise. 


Selasa, 13 Mei 2014

Chanter

Air kolam itu beriak sebelum tenang kembali. Pendaran cahaya hangat lampu taman memantul pada kaca jendela. Desiran angin tak bersuara menerbangkan mimpi-mimpi jiwa yang terlelap. Tak ada hiruk-pikuk hewan malam yang saling bercengkrama seperti biasa, mereka seperti membeku dalam kedamaian dunia.

“Bolehkah..”

Gadis itu tersentak, kembali kepada kenyataan yang sedang menunggunya. Seraya berupaya meninggalkan diri dari fantasia dunia malam, ia mencoba mempertajam pendengarannya untuk mendengar kata-kata yang keluar selanjutnya.

Wajah di depannya memerah sedikit,

“Bolehkah kugenggam tanganmu lagi?”

∞∞

Tiga ketukan pintu lugas berjeda. Perlu waktu beberapa detik sembari ia meregangkan otot-otot yang kaku, ia melepas kaca matanya saat melirik jam dinding. Jam 1 dini hari, ia tertidur tiga puluh menit. Dengan langkah gontai, ia meninggalkan meja belajarnya dan membuka pintu kayu berat itu saat ketukan yang kelima terdengar. Ia tak akan menyangka akan bertemu Petra dengan senyumnya yang mengembang bak adonan roti.

“Est-ce que je vousdéranger? ” (Apakah aku mengganggumu?)bodohnya ia bertanya, tentu saja jawabnya, iya.

“Non, pourqoi?” (Tidak, kenapa?) ah, kau memang paling jago memasang senyum.

Belum sempat Petra menjawab, seseorang berteriak di belakangnya. Well, Ia dan segerombolan yang sedang mengelilinginya.

“Tu viens avec nous aucinéma  , ce soir?” (Kau mau ikut nonton bersama kami, nanti malam?)Tanya Liv dengan ceria, ia sedang berangkul ria dengan Hemmet dan Sabbie.

“Non.” (Tidak.) agak sedikit teruru-buru, kesannya, ia langsung menjawab tidak tanpa berpikir. “J’ai du travail.. (Saya ada pekerjaan..) ia berkata dengan senyuman pada akhirnya.

“Allez! Viens avec nous,quoi!” (Ayolah! Pergi bersama kami!)Hemmet tidak sabaran.

Gadis itu kembali hanya menggeleng lemah sambil ternyum simpul,
“Non, non, ce n’est paspossible...” (Tidak, tidak. Itu tidak  mungkin..)

Mereka jelas terlihat kecewa, walaupun mereka juga tidak percaya akan berhasil. Tapi Liv, Hemmet,Sabbie dan Petra sangat ingin ia ikut bersama mereka. Memakan malamdan hiruk pikuknya bersama orang-orang yang mereka pikir , sahabat. Dan ini bukan pertama kalinya mereka mengajaknya mati-matian. Mungkin mereka muak karena Ia selalu mengurung diri di kamar,mungkin mereka merasa aneh karena Ia lebih suka sendiri, mungkin mereka kasihan padanya karena ia … Toh, itu hanya ada di dalam pikiran gadis itu. Justru yang benar-benar ia takutkan, ialah kalau niat mereka jauh lebih baik dari itu semua. Bagaimana kalau sebenarnya, mereka hanya ingin ia,

Berteman?

Dengan upaya terakhir,Sabbie tersenyum penuh pengertian sambil melirik,

“”Vraiment, tu ne veux pasvenir avec nous?” (Sungguh, kau tidak ingin pergi bersama kami? ) tanya suara malaikat itu lembut.

“Non, merci de votre bonté..” (Tidak, terima kasih atas kebaikanhatimu..)    Ia membalasnya dengan senyuman lemah.

Seketika, Liv, Hemmet danSabbie menyusuri lorong dan keluar dari pintu asrama. Mara merasa agak risih ketika Petra masih mematung di depan pintunya, terlihat enggan untuk pergi. Ia baru saja akan menanyakan apa ada sesuatu, ketika Petra berkata gugup,

”Ceci est pour vous,..” (Ini untukmu..) Ia menyerahkan sebuah tas karton berwarna merah.

Ah ya benar, ia baru saja kembali dari Swiss. Belum sempat ia selesai mengucapkan terima kasih, Petra sudah ambil langkah seribu menyusul kawan-kawannya,“Bonne nuit. ”(Selamat malam)

Gadis itu mengerjap.

Apakah ‘aneh’ merupakan kata yang tepat? Setelah mengunci pintu, ia langsung membuka isi tas karton merah tersebut. Kira-kira apa yang Petra berikan untuknya dari Switzerland? Dikeluarkannya dua kotak persegi panjang yangberat. Cokelat, tentu saja. Apa gunanya pergi ke Swiss jika pulang tanpa cokelat? Uh, ada sesuatu lagi di bawah kartonnya. Sesuatu yang teramat lembut. Iamengeluarkan syal rajut merah yang tebal dan mengagumi keindahannya. Petra punya selera yang bagus.

∞∞

Ini, tentu saja bukan kereta ekonomi jurusan Bandung-Banten yang biasa ia tumpangi masa kecil dulu.Alih-alih angin alami yang dahulu ia rasakan, dinginnya air conditioner membuat pemuda itu merapatkan lagi jaketnya. Dan bukan sawah-sawah hijau dan pemukiman penduduk yang ia pandangi, melainkan dinding terowongan tak berujung dan sesekali stasiun bawah tanah lainnya. Danmana pedagang-pedagang asongan yang menjajakan kacang rebus dan es lilin sambil menyeka keringat dan berteriak lantang? Disini hanya ada penumpang lainnya,sama seperti dia, membaca buku, mendengarkan musik, berbincang pelan dan tidurnyapun tanpa bersuara. Merasa bosan, ia keluarkan lagi selembar kertasdari ranselnya. Sepucuk suratyang merubah hidupnya.

“Selamat..”

“..terima,”

“..murid akademi..”

“perpindahan salah seorang..”

“..mulai bergabung dalam kelas sejak minggu depan.”

Ia baca kembali kata-katayang membuat ia tersenyum. Mimpinya selama 7 tahun, terjawab sudah. Ia, seorang pemuda sederhana dari kotakecil, akan menjejakkan kakinya di Academy of St. Etienne. Perjalan 4 jam Guttenbürg-Paris terasa ringan dihati. Tiba-tiba ia menangkap sesosok anak kecil, kira-kira 6 tahun, berdiri dengan risih sambil memegang tangan ibunya. Tampaknya mereka tidak mendapatkantempat duduk. Kelihatan sekali jika anak tersebut kelelahan berdiri, ia mulai menendang-nendang ke segala arah. Sang ibu hanya menyuruhnya untuk bersabar.
Tunggu apa lagi? Kau manusia atau bukan? Bangkitlah.

“Asseyez-vous, s’il vousplait..” (Silahkan duduk)
Pemuda itu tersenyum ramah pada Ibu dan anaknya saat bangkit dari tempat duduknya.

“Oh.. C’est bon, merci.. “ (Oh.. Anda baik sekali, terima kasih..)
Ujar si Ibu sembari duduk melepas penat dan memangku anak laki-lakinya. Sekilas anak laki-laki tersebut melirik pemuda itu malu-malu sebelum akhirnya menatapnya dengan sungguh-sungguh. Sepertinya sekarang, si anak kasihan melihat pemuda baik hati itu harus rela berdiri demi dirinya.

Jhe vuss demangd pangdong, Mossyieu..-Je vous demande pardon,Monsieur..”
(Saya minta maaf, Tuan..) ujarnya berbisik.

Yang diajak bicara hanya kembali tersenyum sambil memamerkan serentetan gigi putihnya yang berbaris rapi,

“Ça ne fait rien. ”  (Tidak apa-apa.)

Perjalanan 4 jam denganberdiri itupun, terasa bagai tetesan embun sejuk dihati.

∞∞

“Pardon?” (Permisi?)
Suara pelayan restaurant tersebut membangunkan gadis itu dari lautan mimpi. Menyentak sarafnya dengan halus. Ia melihat sekelilingnya, taplak meja berwarna marun, pisau dan garpu perak,piring yang belum dibalik.
“Vous avez choisi,mademoiselle?” (Nona, anda sudah memilih?)

“A-ah, un steak frites, s’ilvous plait..” (Tolong satu steak dengan kentang goreng.)
Ia membuka buku menu dengantangan gemetar.

Pelayang itu mencatat, “Oui,ensuite?”   (Ya, dan ada lagi?)

”…Une crème au caramel.”  (Satu puding caramel.)

“Vous ne prenez pasd’entrèe?” (Anda tidak ingin makanan pembuka?)

Gadis itu mengendurkan bahunya yang tegang sambil tersenyum.
“Non, merci..”    (Tidak,terima kasih.)

“Et comme boisson?”  (Danminumannya?)

“Sodas.”  (Soda)

“Bien. Tout de suit.”  (Baik.Segera.)
Dan dengan senyuman, pelayan tersebut pergi meninggalkan meja. Gadis itu menenggelamkan wajahnya ke kedua telapak tangannya. Wajahnya yang panas membara bersanding dengan bekunya telapak tangannya. Ia benarkan lagi letak syal rajut merah itu di lehernya.Sehabis menyuruput sodanya yang baru datang, ia baca lagi kata-kata dalamlembaran itu dengan teliti,

“Rekomendasi..”

“..keluar,”

“Administrasi dan transportasi..”

“yang terbaik..”

“Semoga..”

“.. University of Birm-”

tanpa sadar, ia meremas surat tersebut kemudian dengan pasrah, merapikannya kembali. Ada apa dengannya? Ini yang ia mau, lalu kenapa semua terasa begitu berat? Mengapa seakan sang waktu membuat langkahnya terseret,menyuruhnya untuk berhenti? Apa yang ia tunggu? Ia rasakan perlahan, selera makannya mulai menghilang. Sekarang ia sangat menyesal telah memesan makanan berat. Sambil menghela napas, ia berpikir..Liv, Hemmet, Sabbie dan Petra.

Diantara mereka, siapa yang akan melihat note itu terlebih dahulu?

∞∞

Ia menyeringai aneh, untuk apa juga ia pergi kesini? Langit tertoreh guritan jingga dan merona. Teriakan-teriakan girang anak-anak yang diperbolehkan menaiki Merry Go Round  satu putaran lagi.Gula-gula kapas mengembang bak awan-awan mimpi. Denting bel penjual es krim dan pengawas karcis yang terlihat kelelahan, menunggu dengan sabar gilirannya untuk mengakhiri shift hari ini. Suara kegembiraan menguar dimana mana. Di seberangtaman hiburan itu, adalah pantai buatan, sia-sia mencoba untuk berselancar, airnya akan berbatas sampai 15 m dari tepi saja. Tapi toh burung-burung camar tetap tertipu. Mereka tetap bernyanyi disekitar ombak ombak magnetik yang bergelung itu, menyempurnakan senandung sore di tempat penuh keajaiban ini. Gadis itu terduduk di sebuah bangku panjang menghadap pantai. Memunggunggi semua cinta yang ada. Meraba-raba pasir dengan telapak kakinya. Bernapas dengan angin yang menyibak surainya. Adakah yang lebih baik dari seorang diri?

∞∞

Ia menjilat darah darilu kanya dan berjalan sambil terseok-seok kearah danau. Seraya mengatur napasnya kembali, ia mengintip bayangan dirinya di tepi sungai. Rambutnya masih tetapseputih salju dan matanya masih berwarna darah memerah. Tapi pakaiannya telahcompang-camping. Sobek sana sobek sini. Kedua bahunya tergores cukup dalam dan beberapa bagian, termasuk pipinya, memar. Kakinya terantuk batu saat ia memanjat bukit tadi bibirnya sedikit sobek. Tapi itu belum seberapa dari pada luka di perut bagian kirinya yang tertembus pedang. Pendarahannya masih terjadi dan membuat pakaiannya berubah warna. Ia mencabut anak panah yang tertancap di punggungnya dengan kasar.

Ini akan memakan waktu yang lama.

Gadis itu lanjut menyeka darah di telapak tangannya dengan lidahnya dan mulai berjalan pelan memasukidanau. Dinginnya air yang telah membeku semalam, dengan luka-lukanya yang menganga lebar, membuatnya memejamkan mata. Gadis itu sesekali merintih kecil akibat luka yang ia rasa menembus ginjalnya tersebut. Namun tak sampai lama, ia berjalan kembali dari tengah danau, ke tepian. Meninggalkan hewan-hewan hutan yang kebingungan. Kemana luka-luka barusan?

∞∞

Bukan seperti ini yang ia bayangkan. Perjalanan dari Paris ke St. Etienne memakan waktu 4 jam dan sekarang… Oh tuhan,sekarang lebih baik lagi! Ia tersesat. Yah, semuanya memang tampak lebih sederhana dari peta. Semakin ia berjalan, semakin ia mendekati bianglala yang tampak menyala dari kejauhan. Taman hiburan St. Etienne. Oh ya, memang ‘hiburan’ yang saat ini ia sedang perlukan. Langkah-langkahnya mulai memberat seiring iamenggeret kopernya, tapi keinginan untuk melihat lebih jauh membuatnya terus tersedot ke dalam zona senja. Samar-samar, ia mendengar debur ombak. Pantai? Baiklah,tersesat di sini ternyata tidak terlalu buruk. Semakin ia rasa sepatunya tenggelam diantara butiran emas pasir, semakin ia memicingkan matanya padasosok yang sedang terduduk di sebuah bangku panjang menghadap laut. Ada yang teringang. Ada sesuatu yang rasanya seperti ‘rumah’. Ada hal yang sepertinya sesuatu yang telah ia cari selama 7 tahun. Dengan amat perlahan sekali, sang pemuda mendekat kearah sosok gadis itu. Dan tanpa aba-aba, gadisitu menoleh lembut.

“Hei..”


∞∞

Stop.


Ada sesuatu yang diam.

Ada sesuatu yang berhenti.

Di dalam.

Bagaimana ia bisa lupa?Kedua pasang mata besar dan tajam itu yang tak pernah ragu menantang dunia?Wajah oval yang terbingkai surai hitam tebal yang melambai tertiup hawa yang iri padanya? Atau senyuman lembut itu seperti sekarang, yang bahkan tak berubah selama 7 tahun terakhir? Dan sekarang, hei. Hei? Hanya ‘Hei..’ yang gadis didepannya ucapkan selama 7 tahun mereka saling mencari?

Katakan sesuatu!

Pemuda itu membersihkan tenggorokannya,“Hai.”

Bagus, ternyata kau sama bodohnya.

“Kau menemukan aku.”

Masih sambil mengangguk tak percaya, pemuda itu tersenyum,

“Aku menemukanmu…”
∞∞
Aneh sekali rasanya,berjalan dengan Bex di saku. Masih terasa asing, namun masih dapat membuatnya tersenyum tak jelas selama beberapa minggu terakhir ini. Baru saja rasanya seperti kemarin, saat ia mencabutnya dari tugu batu. Saat itu terjadi, Bex telah terangkat untuk kelima kalinya selama 2 abad. Generasi kelima. Tak bosan-bosannya ia pandangi seharian. Kuat bajanya yang memantulkan bayangan wajah tampannya. Indah ukirnya sepanjang garis mata yang membelahnya. Desing merdu suaranya saat ia kembali ke dalam sarungnya. Dan belum lagi, bagaimana pegangannya bisa sangat pas dalam tangannya. Mungkin saat ini ia sedang terlalu senang hingga menjadi sombong sedikit. Tapi tak ada salahnya. Ia toh pantas mendapatkannya.

Tapi.. sayang, sayang..pemuda lugu yang sama sekali tak tahu..

Blue Excalibur sedang haus akan darah..

∞∞

Ia sedang menari.Memutar-mutar badannya dan mengayun-ayunkan lengannya. Berputar saat perlu dan menyapu pasir saat beradu. Masih sambil memejamkan mata dan menyungging senyum,ia membungkuk pada akhirnya. Dan si pemuda bertepuk tangan lama sekali. Mereka telah tergelak tawa selama 30 menit terakhir, mencairkan es abadi yang dulu pernah ada. Sekarang gadis itu ambruk di hamparan pasir hangat keemasan.Mengatur napasnya naik turun. Memandang padang bintang di langit seberang. Sang pemuda hanya menatap takjub sesaat dan ikut berbaring disampingnya.

“Itu tadi, namanya tarian angsa..” racau gadis disebelahnya aneh.

Namun pemuda itu hanya menyeringai dan membiarkan gadis itu senang, “Itu, adalah tarian terindah yang seekor angsa pernah tarikan..”

Gadis itu terkikik, “Kwek!”

“Kau tahu mengapa aku ada disini?” Pemuda itu memulai. Dan tanpa ia duga gadis itu mengangguk.
Namun ia tetap melanjutkan,“Akhirnya, mereka menerimaku sebagai siswa kehormatan. Setelah salah seorang siswa dipindahkan ke luar negeri demi alasan rekomendasi jenjang yang lebih tinggi. Aku masuk, ke akademimu..”

“Selamat..” hanya itu yang keluar dari bibir merah mudanya.

“Aku selalu penasaran siapa yang mereka pilih untuk menggantikanku.. ” gadis itu tersenyum.


∞∞

“Impossiblè!” (Tidakmungkin)

Petra mengenggam note kecil yang tergantung di depan pintu kayu itu dengan gemetar. Tak ada angin, tak ada kabar dari burung burung.Tiba-tiba saja note itu tertempel di depan pintu kamar gadis itu. Kertas kecil itu mengubah hidupnya, hidup Liv, Hemmet dan Sabbie juga. Entah bagaimana bisa,hanya ada dua kalimat yang tertera padanya,

Je finis la leçon  -I have finished my study…
Au revoir  -Good bye,

∞∞



“Mereka merekomendasikanku ke Universitas Birmingham.. Kau tahu, itu di Inggris..”



Lidahnya kelu karena angin pantai yang berhembus atau entah kenyataan yang terasa pahit pada pengecapannya.

“Murid yang keluar.. itu kau? Jadi aku bisa masuk.. Karena kau keluar?” pemuda itu terbata-bata.

Meskipun sakit bagi gadis itu untuk mengangguk, pada akhirnya ia melakukannya juga. “Maafkan aku..”

Ia lihat pemuda dihadapannya bahkan seperti tak bisa menahan getaran tubuhnya sendiri, “Dan selama ini kupikir.. Pada akhirnya, aku bisa bertemu denganmu..”

“Kau memang telah bertemu denganku.” Koreksi si gadis.

“Tapi bukan pertemuan yangmengharuskanku melepasmu lagi! ” nada suara pemuda itu mulai meninggi.

Keheningan yang tersisa diantara jarak mereka berdua, hanya diisi suara gelungan ombak yang bisu. Lama sebelum si gadis menghela napas dan tersenyum simpul.
“Kau telah menemukanku.. Kau akan menemukanmu lagi.”

Pemuda itu menoleh. Tak sanggup berkata bahwa apa yang dikatakannya benar. Memang ini jalan yang telah tertuliskan untuk mereka. Untuk saling,

“Kejar-kejaran.. Kurasa pada akhirnya, kita tak pernah berhenti bermain kejar-kejaran..” Pemuda itu tersenyum sedih, “Menurutmu kita akan bertemu lagi?”

Sang gadis menepuk pelanpundak pemuda di sampingnya, “Tentu saja. Kalau hukum Tuhan adalah kita saling bermain kejar-kejaran sampai ke ujung dunia, maka peraturannya adalah, kita akan selalu bertemu di dunia manapun..”

“Benarkah? Di dunia manapun?” pemuda itu memandangnya indah.

Sang gadis menganggukmantap, “Di dunia manapun..”

∞∞

“Kau terlihat aneh,tersenyum sendiri sedari tadi.”

Pemuda berjubah hitam itu terkejut setengah mati. Seorang gadis bergelayutan di dahan pohon, bergantung terbalik, memandangnya seolah gadis itu telah mengamatinya seharian penuh.Dengan sigap ia menarik keluar Bex dari sarungnya.

Sepasang delima gadis itu membesar dan membulat, “Blue Excalibur…?”

“Kau.. tahu? ”tenggorokannya terasa tercekat.

Secepat kilat, gadis itu bangkit. Melompat makin menjauhinya. Dan entah mengapa, memandang penuh takut padanya.

“Kau, Atlas Skyguard..”gadis itu nyaris berbisik.

“Bagaimana kau tahu namaku?”

Bukannya menjawab, gadis itumasih memandangnya curiga. Akhirnya perlahan, ia mendekat.. Meski hanya beberapa langkah, Atlas dapat melihat bagaimana wajah pengganggunya sekarang.Rambutnya lebih pucat dari salju bulan Desember dan matanya, memancarkan delima darah yang tertahan. Gadis itu bukan manusia.

“Berhati-hatilah menggunakannya.. Bex telah haus akan darah selama 500 tahun terakhir.. ” gadis itu terlihat sedikit lebih berani sekarang.

Atlas menggeleng tak percaya, “Tidak.. Merlin bilang-”

“Dan maksudku, bukan darahmanusia..” potong gadis itu.

Atlas membeku. Bagaimana gadis di depannya tahu banyak tentang pedangnya? “Siapa namamu?”

Gadis itu tersenyum, “Itu sama sekali tidak penting.”

“Penting bagiku.”

Gadis itu baru saja hendak mengatakan sesuatu kembali saat ia mendengar suara derap langkah kuda mendekat,secepat kijang, gadis itu berlari menembus pohon-pohon pinus, semakin masuk ke dalam hutan. Atlas tak ambil diam, ia ikut berlari, mengerjar bayangan surai berwarna salju yang melambai-melambai di depan wajahnya.

“Aku perlu namamu!” Atlas tak menyerah.

Dan sesuatu yang mengejutkan terjadi, gadis itu berbalik, dan menyerangnya dengan sebilah pisau kecil. Yang lucunya,hanya menyerempet pipi kirinya saja. Namun tindakan itu membuat Atlas terhenti dan diam.

Gadis itu baru saja menyerangnya.

Dirasakannya cairan hangat mengalirdari balik goresan tersebut, turun melalui leher dan mengotori jubahnya dengan noda merah. Ia terluka.

Luka..  Scar..

Nama gadis itu adalah Scar.

∞∞
Ia meletakkan kopernya dengan lunglai, dan memandang seluruh ruangan barunya tanpa semangat. Bukan ini yang ia bayangkan akan terjadi. Tapi ia tersenyum, betapa lucu rencana Tuhan.

Lihat saja, kita sedang bermain kejar-kejaran..

Dan hitunglah, 1..2..3.. akuakan menemukanmu lagi.

Kamis, 17 April 2014

The Music of Life

ada pada kunang-kunang malam yang tak tahu apa-apa..
ada pada bunga daffodil yang acuh tak acuh..
ada pada anak manusia yang kotor..

Lagu Kehidupan mengalir pada diri
pada alur napas yang kita ambil dan hembuskan..
pada denyut nadi yang kadang kala terpacu Adrenalin..
pada tawa yang mengalir naik turun seiring emosi..

Lagu Kehidupan mengalir pada kehidupan
ada pada setiap jejak langkah yang kita tinggalkan di tanah berlumpur..
ada pada rinai hujan yang jatuh pada atap rumah..
ada pada jalanan padat yang kotor dengan asap kelabu..

Lagu Kehidupan juga mengalir pada Cinta
pada debam jantungnya saat ia berpasrah... itu Ritme.
pada alur warna cerianya saat ia bercinta... itu Melodi.
dan pada detail indahnya saat ia mengamati.. itu Nada.

tapi lebih dari segalanya, kalian lupa..

Lagu Kehidupan tidak berjalan satu arah.

Ada yang memberi, ada yang menerima.
Seperti itu hukum kekalnya. Mengalir seimbang.
Tuhan akan bernyanyi, dan kita mendengarkan.. Itu Dunia.



Sama halnya, seperti.. 
Cinta tak berjalan satu arah juga,

Sabtu, 22 Maret 2014

Para Para..

Man, this blog need something fresh to fill.. -_-
too bad I wasnt the type of person who like to captured every moment in a camera, I'd rather enjoyed it :)
But.. here are some photos to light up this blog, ONLY to light up.. 




















Those are a few from my junior high school life, I havent take anything from my high school year now.. I'll get those for you in no time.. ;)

Kamis, 20 Maret 2014

Dreams

Our dreams drives us crazy

Making us as a different person

Covered with lust and greed
 

Bouncing up our pride
 

And buried down our dignity
 

Our dreams makes us animals
 

Dont know the difference
 

Between the things we need and things we want
 

Our dreams left us empty
 

Identify themself as hope, but they're not.
 

Dreams makes us alive,
 


...or just die.

Rabu, 05 Maret 2014

Ssshh.. Its White

Its March! Oh ya ampun.. sekarang sudah Maret.. dan aku menskip bulan Februari.. hahaha.

Kalian bagaimana di realita sana? Masih disakiti kah? Masih dihakimi kah? Masih dikhianati kepercayaannya? Nggak akan cukup kalo aku cuma ngomong " Sabar.." ya?

And then, jiwamu di sakitin hampir tiap hari, nantinya mau jadi apa? Bangkai? ckckck. 

Inget ya, jangan gampang bersandar sama seseorang. Belum tentu juga orang itu seperti kelihatannya. Siapa tahu dia lebih "mudah pecah" dari kamu. Bersandar itu ke yang nyata. Pohon, batu, tembok. Apapun deh yang lebih kokoh dari kamu. Pohon, batu dan tembok itu lebih baik dari orang yang pura-pura sayang ke kamu.

Thats deep..

Anyway, do you know anything that related to March? White day! White day itu jatuh pada tanggal 14 Maret.   I wouldnt tell you the meaning of White day. Tapi yang jelas, aku lebih suka White Day daripada Valentine's Day. And you know what?



Diam-diam, aku udah nyiapin kejutan White Day buat orang orang yang aku sayang.

White. Baru aja kemarin temenku nanya, "What do you think about a room full of white?" dan aku jawab "A total peace." Mukanya langsung berubah ngeri, dan sebelum dia ngomong, aku udah lanjut, "Setiap kali aku susah tidur, wheter theres a sound that annoys me or thinking a lot of heavy stuff, aku selalu membayangkan sebuah ruangan berwarna putih bersih. Mulai dari pintunya, kusein jendelanya, taplak mejanya pokoknya Its all White. Baru kemudian, aku bisa tidur nyenyak. The more I imagine how white is the room, semakin cepat aku terlelap." aku kaget banget waktu temenku itu bilang kalo ternyata itu tes psikologi. And when I asked whats the meaning beneath, he said..


"White room means 'death'.
 Jadi jawabanmu itu adalah perasaanmu tentang kematian itu sendiri."


Oh well, :D

Kamis, 16 Januari 2014

Vitamin

Do you like to read a book? Does books give you motivation? I motivate a lot by a book. They can bring me a great impact more than people with their words can.. These following books that I want to share with you is a great vitamin-self for you. These books also help me during my most tragic (?) life road...

1. What my mother always used to say

Always listen to your mother folks! This book contains wise advices from a mother to her daughter. Annoying advice that we havent understood, is now brought you to think back how is a mother feelings to her child. Its pretty good for future life with our own childreen..

2. Perahu Kertas
This book is perfect for those who dislike a "chickensoup/motivate book" and more to story/fiction book. This book will teach you a lesson of life and dreams trough a story. At first, I find it reluctant about this book but then +Nawang Grace told me that its not a teenlit (cause I hate teenlit). And she's right. Its all about dreams.. A masterpiece for you dreamers!

3. Buku Pintar Cewek Juara
Girls must have this! Its highly recommended for girls who want to success living their dreams in the real worlds and behave like a princess. This book will tell you step by step on HOW to reach your goals to be a better person. It also contains a lot of test to find out how is your attitude. Go get your crown! Girls Power!

4. Dunia Sophie
    The real title is Sophie's World, its a philosophy novel. This book will teach us about the philosophy of life from the very beginning until in the modern era. This book also discuss the figure of the ancient philosopher we dont know. I know this book from +Elica Ventresa. Its so thick, it took me 3 days to finish it.. Right book for a heavy thinker..

5. The 7 Habits of Highly Effective Teens
Save the last for the best. This book was PERFECT. It made me change. A lot. Similar with "Buku Pintar Cewek Juara" but this book will teach you deeper about who you are and what are you capable of. It will makes us think calmer.. but faster.. be a much much much better person for our environment. Sean Covey is a Genius! But, unfortunately, this is an old book. You have to look real hard if you want to find it. And I doubt that bookstore will have it. But you can always order it from the net. Look hard. You wont regret it.