Minggu, 08 Januari 2017

Midnight, Redbull and the Duck



Ara merapikan pinggiran rok sifon putihnya dengan jari-jarinya yang kedinginan. Ia menoleh kearah Leah tapi Leah hanya menggeleng satu kali. Orang yang mereka tunggu belum datang juga. Ken menenggak kopinya sekali lagi, berbeda dengan Ara dan Leah yang menunggu cemas, ia dan Zidane sedang bersenda gurau dengan hati ringan. Entah mengapa Ara merasa tawa Zidane seakan menghangatkan suhu dingin di sekitar mereka yang menggigit. Lama ditunggu akhirnya sebuah suv hitam keluar dari terowongan dan perlahan mendekati mereka. Kaca jendela mobil terbuka, di dalamnya, wajah Alan tampak sangat menyesal.
“Kuncinya secara ajaib hilang dan aku harus mencarinya selama 30 menit.” Tapi ia terkekeh juga
Leah hanya memutar bola matanya sambil membuka pintu depan, “Ara kau mau di depan?”
Ara berpikir sebentar lalu menggeleng, “Aku akan tertidur. Mungkin duduk dibelakang bersama Ken dan Zidane akan membuatku terjaga.”
Alan menjulurkan lehernya, “Naik, pecundang!”
Zidane membuka pintu dengan berisik, “Kau menyetir seperti nenek-nenek berkaki satu.”
“Kalau kau mengantuk nanti, bilang padaku. Aku akan menggantikanmu.” Ujar Ken
Alan memecah ludahnya, “Kau beli redbull kan?”
Dan suv hitam itu meluncur di tengah malam. Penuh tawa, penuh sorak. Snack-snack dan minuman bersoda serta permen digilir tak henti henti. Setiap mereka mencapai lampu merah, Leah dan Ken akan bertaruh berapa detik lampu hijau akan menyala, meskipun Alan juga akan menerobos sebelum lampu merah menghilang . Kadang mereka tersesat dalam kereta pikiran masing masing. Ketika lampu-lampu kota semakin temaram dan kau bisa benar-benar melihat angin yang menggesek dedaunan di pohon dengan jelas. Ken akan mengecek handphonenya. Leah akan memejamkan mata dan menikmati terpaan cahaya yang lewat sekilas. Ara akan memainkan lagu dalam pikirannya, Zidane akan minum, minum dan minum. Bagi Alan sendiri, tak ada yang ia lebih sukai dari bepergian saat tengah malam. Ada sensasi luar biasa ketika kau berjalan dan seisi kota seakan diam dan tertidur. Ada endorfin tinggi yang hanya membuatnya ingin berteriak bahwa sekarang, saat ini, dunia adalah miliknya. Memikirkannya saja membuat mata Alan berkaca-kaca dengan tololnya. Ia menelan ludahnya.
“Suatu hari.. “ tiba-tiba Ara memecah keheningan, seisi mobil mendadak terjaga.
 “Ada seekor bebek.”
Tawa di mobil pecah. Ara bisa melihat Alan menaikkan satu alisnya tapi Ara tak ambil peduli.
“Bebek itu bertanya pada Sungai. Adakah yang lebih lembut dari Sungai?
‘Ada’, jawab Sungai. ‘Yang lebih lembut dari ku ialah Awan.
Maka Bebek itu bertanya pada Awan. Adakah yang lebih putih dari Awan?
‘Ada’, jawab sang Awan. ‘Yang lebih putih dari ku ialah Salju.’
Jadi Bebek itu bertanya pada Salju. Adakah yang lebih dingin dari Salju?
‘Ada’ jawab Salju. ‘Tapi kau tidak bisa bertanya padanya, Bebek.’”
Seisi mobil diam mendengarkan, suara Ara manis dan menyenangkan. Seperti peri
“’Kenapa tidak?’
‘Yang lebih dingin dariku ialah hati manusia yang telah beku. Dan hati manusia yang telah beku tak mampu mendengar apapun apalagi suaramu.’”
Lampu hijau telah menyala di depan mereka selama 9 detik tapi Alan masih terhenti.