Ara merapikan pinggiran rok sifon
putihnya dengan jari-jarinya yang kedinginan. Ia menoleh kearah Leah tapi Leah
hanya menggeleng satu kali. Orang yang mereka tunggu belum datang juga. Ken
menenggak kopinya sekali lagi, berbeda dengan Ara dan Leah yang menunggu cemas,
ia dan Zidane sedang bersenda gurau dengan hati ringan. Entah mengapa Ara
merasa tawa Zidane seakan menghangatkan suhu dingin di sekitar mereka yang
menggigit. Lama ditunggu akhirnya sebuah suv hitam keluar dari terowongan dan
perlahan mendekati mereka. Kaca jendela mobil terbuka, di dalamnya, wajah Alan
tampak sangat menyesal.
“Kuncinya secara ajaib hilang dan
aku harus mencarinya selama 30 menit.” Tapi ia terkekeh juga
Leah hanya memutar bola matanya
sambil membuka pintu depan, “Ara kau mau di depan?”
Ara berpikir sebentar lalu
menggeleng, “Aku akan tertidur. Mungkin duduk dibelakang bersama Ken dan Zidane
akan membuatku terjaga.”
Alan menjulurkan lehernya, “Naik,
pecundang!”
Zidane membuka pintu dengan
berisik, “Kau menyetir seperti nenek-nenek berkaki satu.”
“Kalau kau mengantuk nanti,
bilang padaku. Aku akan menggantikanmu.” Ujar Ken
Alan memecah ludahnya, “Kau beli
redbull kan?”
Dan suv hitam itu meluncur di
tengah malam. Penuh tawa, penuh sorak. Snack-snack dan minuman bersoda serta
permen digilir tak henti henti. Setiap mereka mencapai lampu merah, Leah dan
Ken akan bertaruh berapa detik lampu hijau akan menyala, meskipun Alan juga
akan menerobos sebelum lampu merah menghilang . Kadang mereka tersesat dalam
kereta pikiran masing masing. Ketika lampu-lampu kota semakin temaram dan kau
bisa benar-benar melihat angin yang menggesek dedaunan di pohon dengan jelas.
Ken akan mengecek handphonenya. Leah akan memejamkan mata dan menikmati terpaan
cahaya yang lewat sekilas. Ara akan memainkan lagu dalam pikirannya, Zidane
akan minum, minum dan minum. Bagi Alan sendiri, tak ada yang ia lebih sukai
dari bepergian saat tengah malam. Ada sensasi luar biasa ketika kau berjalan
dan seisi kota seakan diam dan tertidur. Ada endorfin tinggi yang hanya
membuatnya ingin berteriak bahwa sekarang, saat ini, dunia adalah miliknya.
Memikirkannya saja membuat mata Alan berkaca-kaca dengan tololnya. Ia menelan
ludahnya.
“Suatu hari.. “ tiba-tiba Ara
memecah keheningan, seisi mobil mendadak terjaga.
“Ada seekor bebek.”
Tawa di mobil pecah. Ara bisa
melihat Alan menaikkan satu alisnya tapi Ara tak ambil peduli.
“Bebek itu bertanya pada Sungai.
Adakah yang lebih lembut dari Sungai?
‘Ada’, jawab Sungai. ‘Yang lebih
lembut dari ku ialah Awan.
Maka Bebek itu bertanya pada
Awan. Adakah yang lebih putih dari Awan?
‘Ada’, jawab sang Awan. ‘Yang
lebih putih dari ku ialah Salju.’
Jadi Bebek itu bertanya pada
Salju. Adakah yang lebih dingin dari Salju?
‘Ada’ jawab Salju. ‘Tapi kau
tidak bisa bertanya padanya, Bebek.’”
Seisi mobil diam mendengarkan,
suara Ara manis dan menyenangkan. Seperti peri
“’Kenapa tidak?’
‘Yang lebih dingin dariku ialah
hati manusia yang telah beku. Dan hati manusia yang telah beku tak mampu
mendengar apapun apalagi suaramu.’”
Lampu hijau telah menyala di
depan mereka selama 9 detik tapi Alan masih terhenti.