Jumat, 15 Januari 2016

“Hush Hush (Listen!)”




Karena ada banyak hal untuk dipelajari
Kopi di tangannya masih panas dan mengepulkan asap. Gadis itu duduk di bangku taman dengan pelan. Jam di taman itu menunjukkan pukul 00.30. Sudah lewat tengah malam.
“Sudah lewat..”
Ia berbisik pelan pada udara beku lalu menyeruput kopinya.
Kota ini tak pernah tidur. Hingar bingar dan lampu kota. Sebaiknya sumpal telingamu jika kau ingin tidur. Gedung sebelah mungkin berpesta pora sedang kau ada presentasi besok. Gadis itu membenarkan syal di lehernya berkali-kali sampai ia menyerah.
‘Sebentar lagi sampai..’
Walaupun benci tapi tak dipungkiri kalau ini tempat yang sering ia kunjungi. I tersenyum kecil pada Rob di pintu dan langsung masuk. Telinganya masih bisa menangkap protes orang-orang yang mengantri.
“Hei! Ini tidak adil! Kami berdiri selama 2 jam!”
Masuk terus semakin dalam menuju cahaya temaram. Sekarang ia bahkan tak bisa mendengarkan dirinya sendiri berpikir. Juga badannya yang kecil menyebabkan ia mudah terhempas gelombang manusia-manusia gila ini.Tapi akhirnya ia mampu mencapai bar.
“Mika!” Terre tampak senang melihatnya.
“Hai Terre..” Mika tersenyum ringan. “Kau lihat Cash?”
“Cash? Tidak, tidak. Cash tidak kesini malam ini.” Terre mengelap gelas.
Mika benar-benar kecewa, “Begitu ya..”
“Datang untuk meminta bayaranmu?”
“Sudah pasti jelas terlihat bukan..” Mika nyengir. “Aku bangkrut.”
Terre tertawa kecil, “Tenang saja, Cash tidak akan lari kemana-mana. Besok datang lagi dan ambil uangmu.”
Mika mengangguk kecil. DJ memainkan lagu yang ia hapal dengan beat dan drop yang payah.
“Kau mau main? Aku bisa menendangnya kapan saja.” Tawar Terre.
“Tidak lagi, Terre. Kemarin yang terakhir.”
“Payah..” Terre mencibir. “Kau tetap yang terbaik.”
“Terima kasih, sobat.” Mika beranjak. “ Sampaikan pada Cash aku mencarinya. Aku harus pergi.”
“Sudah mau pergi? Kau mau minum sesuatu? Martini?”
“Tidak terima kasih. Aku masih ada janji.”
Terre tersenyum tulus, “Jaga dirimu, Mika.”
“Kau juga.”
Maka ia keluar secepat yang ia bisa. Dan setelah melempar salam dengan Rob, Mika melangkahkan kakinya ragu-ragu. Masih ada janji? Dengan siapa? Mika menengadah menatap langit buta.
“Dengan kau kah, bulan?”
Lampu-lampu gemerlap menghiasi kota yang tak pernah terlelap. Manusia-manusia malam bertebaran di sudut kota, mencari kehangatan atau apa saja yang rasanya hampir mirip dengan cinta.
‘Sudah lewat tengah malam.. sudah lewat tengah malam..’
Itu saja yang ia ulang-ulang di pikirannya. Dan sekarang sudah jam 2 pagi. Mika memutuskan untuk menghibur dirinya sedikit maka ia pergi ke Deluxe untuk makan pizza tuna dan nanas. Deluxe buka 24 jam maka aman untuk menghabiskan waktu sambil menunggu matahari terbit. Namun setelah potongan pertama saja, perutnya sudah terasa aneh. Maka ia membungkus makanannya untuk dibawa pulang.
Mika setengah berlari menuju apartemennya. Ia bahkan tak repot-repot menyalakan lampu dan langsung membanting pintu kamar mandi.
Kalau kau tanya “mengapa” , jawabnya bukan “karena”
Tapi “siapa”
“Siapa” dirimu untuk bertanya “mengapa” ?
Jika Tuhan saja tiada mencerca dengan kata?
“Siapa” dirimu untuk berkata “Hidup ini bajingan.”
Jika yang bajingan saja masih diberi hidup?
Kalau “Hidup” itu untuk “Mati” lalu
Untuk “Apa” ?
Bukan begitu..?
Aku..
Aku hanya minta didengar..
Mika muntah sepuasnya. Air matanya ikut menetes turun ke kubangan menjijikan itu tanpa bisa ia tahan. Setelah lima belas menit, dengan kedinginan dan mulut yang asam, Mika terduduk di lantai kamar mandi. Seharusnya ia minum. Seharusnya ia beranjak ke arah dapur dan menenggak segelas air hangat. Atau seharusnya ia menekan tombol flush. Bau busuk muntahannya masih tercuim. Dan “seharusnya-seharusnya” yang lain.
Tapi entah mengapa ia mulai meraung. Meraung sejadi-jadinya. Bahkan ia mulai menendang-nendang angin dengan kakinya layaknya anak kecil merengek minta mainan. Kemudian ia mulai menjambaki rambutnya yang bahkan sudah terkena masalah rontok. Dan seharusnya Mika juga tidak menangis. Seharusnya..
Entah berapa lama setelah Mika tenang. Ia baru sadar ketika kakinya benar-benar menggigil karena lantai kamar mandi yang semakin dingin. Mika bangkit dan bercermin.
Monster.
Dengan rambut acak-acakkan bagai surai singa, mata bengkak dan merah. Bibir robek dan wajah yang lebam. Ia benar-benar terlihat seperti badut setan. Mika membuang ingusnya, mencuci wajahnya dan keluar. Langit mulai membiru dari kaca jendelanya. Segera setelah ia berganti baju, ia menyambar selembar kain untuk menghangatkan dirinya dari Embun pagi dan memanjat keluar jendela. Entah sudah mulai kapan kebiasaan ini, menaiki tangga darurat menuju atap apartemennya. Sedikit lagi matahari terbit. Ia beruntung.
“Hendak pergi kah kau, bulan? Bukankah kau selalu ada? Bintang tak ingin berkejora jika tanpa kau. Surya pun tak mampu membakarmu dengan sinarnya. Halus guratanmu, bulan. Menerima cahaya hanya untuk menerangi kehidupan yang bahkan lalai dalam gelap malam. Andai semua sungai seikhlas kau, bulan. Maka tak akan ada laut yang mati..”
Mika tersentak kecil saat tangannya menyentuh ujung daun-daun kecil pot blueberry.
“Hai... Selamat pagi..” Mika tersenyum.
Ia nyaris lupa pada semua tanaman di atap apartemennya. Maka ia mengambil selang di bawah tangki air dan mulai menyiram.
Dengarkan aku..
Aku hanya ingin didengar,
Dan kalau kau tanya aku,
Seluruh alam semesta hanya butuh didengar
Dengan dua telinga tajam yang bahkan
Mampu mendengar jeritan tetes hujan
“Hari sudah pagi! Ayo kawan! Angkat semua remah kalian temukan! Jangan kehilangan seorangpun anggota kelompokmu. Hindari air dari daun-daun lebar. Ayo kawan! Ayo kawan!”
Mika menonton melihat barisan semut hitam mengitari pot murbei.
“Selamat pagi untuk kalian, serdadu semut hitam. Dan selamat pagi juga untukmu murbei-murbei mungil. Pagi sudah datang kembali dan kalian semua sedang bergegas. Aku tidak akan menganggu. Aku hanya akan mendengarkan dan mengamati. Lanjutkan pekerjaan kalian. Aku hanya sedang menunggu angin. Karena angin selalu datang sambil berbisik. Dan biasanya angin membisiki nama setiap orang.”
“Siapa” kalian untuk berkata dengan duri?
Bukankah semua agama mengajarkan kebaikan
Dan Tuhan adalah akhir dari pencarian
Akan tiba saatnya aku datang
Dan mengambil semua yang kau rasa berharga
Hidup untuk mati
Karena ada hal-hal yang perlu dialami
Ada banyak hal untuk dipelajari
Dan orang-orang untuk dicintai
Banyak hal sebelum mati
Untuk diketahui
“Mika..”
Dan Mika merasakan hembusan sejuk yang membelai pipi dan rambutnya lembut. Mika tersenyum menatap cahaya.
“Ternyata kau, angin. Dan kau datang lagi membisikan namaku. Sudah lama sejak kita bertemu, angin. Aku merindukanmu. Habis menjelajah kah kau, angin?”
Sinar matahari semakin tinggi. Mungkin sekarang pukul 5 dan setengah 6 atau bahkan lebih.
“Selamat pagi, surya.. Selamat datang, pagi..”
Mika terbangun tanpa ingat bagaimana ia tertidur. Ini memang benar tempat tidurnya. Dan sejenak ia percaya bahwa ia masih bermimpi karena yang pertama kali ia lihat saat membuka mata adalah sepasang bola mata yang juga menatap balik. Lalu bagai terkena setrum, kenyataan membangunkannya dengan detak jantung yang beradu.
“Selamat ulang tahun, Mika..” Juna tersenyum.
Mika tidak menjawab. Ia menabrakkan sebuah pelukan ke dada bidang itu. Juna terkejut sekilas lalu membalas pelukannya dan membelai rambutnya.
“Aku pulang..” ujar Juna pelan.
Mika masih bisu. Hanya mempererat pelukannya.
“Mika?”
Dan seharusnya air mata itu mengucur deras. Harusnya Mika menjerit kembali menumpahkan segalanya. Harusnya ingus dan liurnya membasahi sweater Juna. Harusnya Mika mengamuk.

Tapi sekuat apapun rasa untuk itu, Mika hanya menelan ludah dan menghela napas. Air matanya bagai tertarik kuat.
“Hei.. Embun..Kau tak apa-apa?”
Akhirnya Mika menjawab, “Sekarang sudah baik-baik saja..”
Sebuah senyuman terlepas dari bibirnya.
“Ada sesuatu selama aku pergi?” Juna masih khawatir.
Mika menggeleng, “Pada akhirnya, aku mampu melewati semuanya.”
Juna menatapnya lama lalu mengecup keningnya. “Kau memang wanita yang kuat, Embun..”
“Aku tahu.”
“Tak perlu bangun. Aku akan bikinkan sarapan. Untuk aku, kau dan gumpalan kecil ini.”
Juna spontan menciumi perut Mika bertubi-tubi hingga Mika tergelak.
“Berani-beraninya kau menyebutnya ‘gumpalan’..” Mika pura-pura marah.
Juna hanya tertawa seraya berjalan ke arah dapur.
“Kau ingin sarapan apa, Tuan Putri? Omelette?”
Mika menggeleng  enggan. “Tidak perlu. Ada pizza di kulkas. Kau bisa panaskan. Tapi aku benar-benar mual.”
“Wah benar-benar gumpalan kecil itu..” umpat Juna.
“Sudah kubilang jangan menyebutnya ‘gumpalan’!”
“Lalu?” Juna menuang air ke gelas, “Kita belum menyiapkan nama untuknya.”
Mika melotot, “Tentu saja, sudah! Dan.. ya ampun.. Asal kau tahu saja ya, Ia sudah punya nama sebelum ia bertempat di sini!” Mika menunjuk perutnya sendiri yang masih kecil.
“Oh ya?” Juna tersenyum.
“Ya. Dia memberitahuku.”
“Kalau begitu siapa namanya?”
“Kau tebaklah sendiri.”
“Oh ayolah, Embun.. Aku kan ayahnya!”
Mika tak mau tahu, “Justru kau seharusnya tau. Kau seharusnya mendengarkan ia.”
Juna cemberut. Kini Mika yang tertawa.
“Kemari dan bicara padanya. Tanya siapa namanya.”
Maka Juna menurut dan menempelkan telinganya di perut Mika lalu menyapa pelan,
 “Hai gumpalan kecil.. Siapa namamu?”
Juna terdiam cukup lama. Lalu akhirnya ia bangkit dan menatap mika dengan ekspresi yang menakjubkan dan tak mampu ditebak.
Mika tersenyum lebar, “Lalu? Siapa namanya?”
Juna menaikan satu alisnya, “Luna?”
∞∞∞

(A/N)
I dont give a damn. I just want to write . Fuck the language and your opinion. They’re having a little zygot for God sake. And buat kalian Irresponsible Authorku sayang, I didnt take Juna from Arjuna Satriobakti. This is a random someone else. (And dont take my harsh words. Those are not for you guys xoxo)
And Luna in Latin means “Moon”. Incase youre idiot enough.
And it looks like i hate you, but i love you.. okay?