Karena ada banyak hal untuk dipelajari
Kopi di tangannya masih panas dan
mengepulkan asap. Gadis itu duduk di bangku taman dengan pelan. Jam di taman
itu menunjukkan pukul 00.30. Sudah lewat tengah malam.
“Sudah lewat..”
Ia berbisik pelan pada udara beku
lalu menyeruput kopinya.
∞
Kota ini tak pernah tidur. Hingar
bingar dan lampu kota. Sebaiknya sumpal telingamu jika kau ingin tidur. Gedung
sebelah mungkin berpesta pora sedang kau ada presentasi besok. Gadis itu
membenarkan syal di lehernya berkali-kali sampai ia menyerah.
‘Sebentar lagi sampai..’
Walaupun benci tapi tak
dipungkiri kalau ini tempat yang sering ia kunjungi. I tersenyum kecil pada Rob
di pintu dan langsung masuk. Telinganya masih bisa menangkap protes orang-orang
yang mengantri.
“Hei! Ini tidak adil! Kami berdiri
selama 2 jam!”
Masuk terus semakin dalam menuju
cahaya temaram. Sekarang ia bahkan tak bisa mendengarkan dirinya sendiri
berpikir. Juga badannya yang kecil menyebabkan ia mudah terhempas gelombang
manusia-manusia gila ini.Tapi akhirnya ia mampu mencapai bar.
“Mika!” Terre tampak senang
melihatnya.
“Hai Terre..” Mika tersenyum
ringan. “Kau lihat Cash?”
“Cash? Tidak, tidak. Cash tidak
kesini malam ini.” Terre mengelap gelas.
Mika benar-benar kecewa, “Begitu
ya..”
“Datang untuk meminta bayaranmu?”
“Sudah pasti jelas terlihat
bukan..” Mika nyengir. “Aku bangkrut.”
Terre tertawa kecil, “Tenang
saja, Cash tidak akan lari kemana-mana. Besok datang lagi dan ambil uangmu.”
Mika mengangguk kecil. DJ
memainkan lagu yang ia hapal dengan beat dan drop yang payah.
“Kau mau main? Aku bisa
menendangnya kapan saja.” Tawar Terre.
“Tidak lagi, Terre. Kemarin yang
terakhir.”
“Payah..” Terre mencibir. “Kau
tetap yang terbaik.”
“Terima kasih, sobat.” Mika
beranjak. “ Sampaikan pada Cash aku mencarinya. Aku harus pergi.”
“Sudah mau pergi? Kau mau minum
sesuatu? Martini?”
“Tidak terima kasih. Aku masih
ada janji.”
Terre tersenyum tulus, “Jaga
dirimu, Mika.”
“Kau juga.”
Maka ia keluar secepat yang ia
bisa. Dan setelah melempar salam dengan Rob, Mika melangkahkan kakinya
ragu-ragu. Masih ada janji? Dengan siapa? Mika menengadah menatap langit buta.
“Dengan kau kah, bulan?”
Lampu-lampu gemerlap menghiasi
kota yang tak pernah terlelap. Manusia-manusia malam bertebaran di sudut kota,
mencari kehangatan atau apa saja yang rasanya hampir mirip dengan cinta.
∞
‘Sudah lewat tengah malam.. sudah
lewat tengah malam..’
Itu saja yang ia ulang-ulang di
pikirannya. Dan sekarang sudah jam 2 pagi. Mika memutuskan untuk menghibur
dirinya sedikit maka ia pergi ke Deluxe untuk makan pizza tuna dan nanas.
Deluxe buka 24 jam maka aman untuk menghabiskan waktu sambil menunggu matahari
terbit. Namun setelah potongan pertama saja, perutnya sudah terasa aneh. Maka
ia membungkus makanannya untuk dibawa pulang.
Mika setengah berlari menuju
apartemennya. Ia bahkan tak repot-repot menyalakan lampu dan langsung
membanting pintu kamar mandi.
∞
Kalau kau tanya “mengapa” , jawabnya bukan “karena”
Tapi “siapa”
“Siapa” dirimu untuk bertanya “mengapa” ?
Jika Tuhan saja tiada mencerca dengan kata?
“Siapa” dirimu untuk berkata “Hidup ini bajingan.”
Jika yang bajingan saja masih diberi hidup?
Kalau “Hidup” itu untuk “Mati” lalu
Untuk “Apa” ?
Bukan begitu..?
Aku..
Aku hanya minta didengar..
∞
Mika muntah sepuasnya. Air
matanya ikut menetes turun ke kubangan menjijikan itu tanpa bisa ia tahan.
Setelah lima belas menit, dengan kedinginan dan mulut yang asam, Mika terduduk
di lantai kamar mandi. Seharusnya ia minum. Seharusnya ia beranjak ke arah
dapur dan menenggak segelas air hangat. Atau seharusnya ia menekan tombol
flush. Bau busuk muntahannya masih tercuim. Dan “seharusnya-seharusnya” yang
lain.
Tapi entah mengapa ia mulai
meraung. Meraung sejadi-jadinya. Bahkan ia mulai menendang-nendang angin dengan
kakinya layaknya anak kecil merengek minta mainan. Kemudian ia mulai menjambaki
rambutnya yang bahkan sudah terkena masalah rontok. Dan seharusnya Mika juga
tidak menangis. Seharusnya..
Entah berapa lama setelah Mika
tenang. Ia baru sadar ketika kakinya benar-benar menggigil karena lantai kamar
mandi yang semakin dingin. Mika bangkit dan bercermin.
Monster.
Dengan rambut acak-acakkan bagai
surai singa, mata bengkak dan merah. Bibir robek dan wajah yang lebam. Ia benar-benar
terlihat seperti badut setan. Mika membuang ingusnya, mencuci wajahnya dan
keluar. Langit mulai membiru dari kaca jendelanya. Segera setelah ia berganti
baju, ia menyambar selembar kain untuk menghangatkan dirinya dari Embun pagi
dan memanjat keluar jendela. Entah sudah mulai kapan kebiasaan ini, menaiki
tangga darurat menuju atap apartemennya. Sedikit lagi matahari terbit. Ia beruntung.
“Hendak pergi kah kau, bulan? Bukankah
kau selalu ada? Bintang tak ingin berkejora jika tanpa kau. Surya pun tak mampu
membakarmu dengan sinarnya. Halus guratanmu, bulan. Menerima cahaya hanya untuk
menerangi kehidupan yang bahkan lalai dalam gelap malam. Andai semua sungai
seikhlas kau, bulan. Maka tak akan ada laut yang mati..”
Mika tersentak kecil saat
tangannya menyentuh ujung daun-daun kecil pot blueberry.
“Hai... Selamat pagi..” Mika
tersenyum.
Ia nyaris lupa pada semua tanaman
di atap apartemennya. Maka ia mengambil selang di bawah tangki air dan mulai
menyiram.
∞
Dengarkan aku..
Aku hanya ingin didengar,
Dan kalau kau tanya aku,
Seluruh alam semesta hanya butuh didengar
Dengan dua telinga tajam yang bahkan
Mampu mendengar jeritan tetes hujan
∞
“Hari sudah pagi! Ayo kawan!
Angkat semua remah kalian temukan! Jangan kehilangan seorangpun anggota
kelompokmu. Hindari air dari daun-daun lebar. Ayo kawan! Ayo kawan!”
Mika menonton melihat barisan
semut hitam mengitari pot murbei.
“Selamat pagi untuk kalian,
serdadu semut hitam. Dan selamat pagi juga untukmu murbei-murbei mungil. Pagi
sudah datang kembali dan kalian semua sedang bergegas. Aku tidak akan
menganggu. Aku hanya akan mendengarkan dan mengamati. Lanjutkan pekerjaan
kalian. Aku hanya sedang menunggu angin. Karena angin selalu datang sambil
berbisik. Dan biasanya angin membisiki nama setiap orang.”
∞
“Siapa” kalian untuk berkata dengan duri?
Bukankah semua agama mengajarkan kebaikan
Dan Tuhan adalah akhir dari pencarian
Akan tiba saatnya aku datang
Dan mengambil semua yang kau rasa berharga
Hidup untuk mati
Karena ada hal-hal yang perlu dialami
Ada banyak hal untuk dipelajari
Dan orang-orang untuk dicintai
Banyak hal sebelum mati
Untuk diketahui
∞
“Mika..”
Dan Mika merasakan hembusan sejuk
yang membelai pipi dan rambutnya lembut. Mika tersenyum menatap cahaya.
“Ternyata kau, angin. Dan kau datang
lagi membisikan namaku. Sudah lama sejak kita bertemu, angin. Aku merindukanmu.
Habis menjelajah kah kau, angin?”
Sinar matahari semakin tinggi.
Mungkin sekarang pukul 5 dan setengah 6 atau bahkan lebih.
“Selamat pagi, surya.. Selamat
datang, pagi..”
∞
Mika terbangun tanpa ingat
bagaimana ia tertidur. Ini memang benar tempat tidurnya. Dan sejenak ia percaya
bahwa ia masih bermimpi karena yang pertama kali ia lihat saat membuka mata adalah
sepasang bola mata yang juga menatap balik. Lalu bagai terkena setrum,
kenyataan membangunkannya dengan detak jantung yang beradu.
“Selamat ulang tahun, Mika..”
Juna tersenyum.
Mika tidak menjawab. Ia menabrakkan
sebuah pelukan ke dada bidang itu. Juna terkejut sekilas lalu membalas
pelukannya dan membelai rambutnya.
“Aku pulang..” ujar Juna pelan.
Mika masih bisu. Hanya mempererat
pelukannya.
“Mika?”
Dan seharusnya air mata itu
mengucur deras. Harusnya Mika menjerit kembali menumpahkan segalanya. Harusnya
ingus dan liurnya membasahi sweater Juna. Harusnya Mika mengamuk.
Tapi sekuat apapun rasa untuk
itu, Mika hanya menelan ludah dan menghela napas. Air matanya bagai tertarik
kuat.
“Hei.. Embun..Kau tak apa-apa?”
Akhirnya Mika menjawab, “Sekarang
sudah baik-baik saja..”
Sebuah senyuman terlepas dari
bibirnya.
“Ada sesuatu selama aku pergi?”
Juna masih khawatir.
Mika menggeleng, “Pada akhirnya,
aku mampu melewati semuanya.”
Juna menatapnya lama lalu
mengecup keningnya. “Kau memang wanita yang kuat, Embun..”
“Aku tahu.”
“Tak perlu bangun. Aku akan
bikinkan sarapan. Untuk aku, kau dan gumpalan kecil ini.”
Juna spontan menciumi perut Mika
bertubi-tubi hingga Mika tergelak.
“Berani-beraninya kau menyebutnya
‘gumpalan’..” Mika pura-pura marah.
Juna hanya tertawa seraya
berjalan ke arah dapur.
“Kau ingin sarapan apa, Tuan Putri?
Omelette?”
Mika menggeleng enggan. “Tidak perlu. Ada pizza di kulkas. Kau
bisa panaskan. Tapi aku benar-benar mual.”
“Wah benar-benar gumpalan kecil
itu..” umpat Juna.
“Sudah kubilang jangan
menyebutnya ‘gumpalan’!”
“Lalu?” Juna menuang air ke
gelas, “Kita belum menyiapkan nama untuknya.”
Mika melotot, “Tentu saja, sudah!
Dan.. ya ampun.. Asal kau tahu saja ya, Ia sudah punya nama sebelum ia
bertempat di sini!” Mika menunjuk perutnya sendiri yang masih kecil.
“Oh ya?” Juna tersenyum.
“Ya. Dia memberitahuku.”
“Kalau begitu siapa namanya?”
“Kau tebaklah sendiri.”
“Oh ayolah, Embun.. Aku kan
ayahnya!”
Mika tak mau tahu, “Justru kau
seharusnya tau. Kau seharusnya mendengarkan ia.”
Juna cemberut. Kini Mika yang
tertawa.
“Kemari dan bicara padanya. Tanya
siapa namanya.”
Maka Juna menurut dan menempelkan
telinganya di perut Mika lalu menyapa pelan,
“Hai gumpalan kecil.. Siapa namamu?”
Juna terdiam cukup lama. Lalu
akhirnya ia bangkit dan menatap mika dengan ekspresi yang menakjubkan dan tak
mampu ditebak.
Mika tersenyum lebar, “Lalu?
Siapa namanya?”
Juna menaikan satu alisnya, “Luna?”
∞∞∞
(A/N)
I dont give a damn. I just want to write . Fuck the language and your opinion.
They’re having a little zygot for God sake. And buat kalian Irresponsible
Authorku sayang, I didnt take Juna from Arjuna Satriobakti. This is a random
someone else. (And dont take my harsh words. Those are not for you guys xoxo)
And Luna in Latin means “Moon”. Incase youre idiot enough.
And it looks like i hate you, but i love you.. okay?